KEMELUT TERATAI KEMBAR

Amrullah Ibrahim
Chapter #71

Suara Bulat Delapan Sahabat

Desir angin lembah yang membawa sisa-sisa abu peperangan berembus pelan, menampar permukaan tanah yang basah oleh darah dan embun malam. Di tengah hamparan reruntuhan arena pertarungan yang baru saja mereda, suasana terasa begitu sunyi dan mencekam, menyisakan napas tersengal-sengal dari mereka yang masih bertahan hidup. Arka berdiri terpaku di hadapan pusaran energi sisa Kitab Teratai Agung, tubuhnya limbung dan kedua tangannya gemetar hebat menahan beban batin yang hampir meremukkan jiwanya. Keputusan besar berada di ujung tanduk—apakah ia harus menghancurkan sumber malapetaka itu dengan mengorbankan seluruh tenaga dalanya, atau membiarkan kutukan tersebut terus menelan korban jiwa.

Melihat pergulatan batin yang begitu hebat merajam diri sang pemimpin muda, kedelapan sahabat setianya—Fathan, Galin, Kamil, Rafar, Yafid, Zahra, Chafia, Azalia, dan Risha—tidak tinggal diam. Meskipun sekujur tubuh mereka penuh dengan luka robek dan kelelahan yang teramat sangat, mereka bersusah payah merangkak dan berjalan tertatih-tengah mendekati posisi Arka di pusat medan laga.

"Arka... jangan tanggung beban itu sendirian," rintih Fathan sambil memegang dadanya yang sakit, memaksakan kakinya melangkah maju di atas bebatuan yang tajam.

Arka menoleh dengan pandangan kosong, air matanya bercampur dengan debu di pipinya saat melihat kondisi rekan-rekannya yang babak belur demi melindunginya. "Kalian... kalian seharusnya tidak perlu mendekat ke sini. Energi di sekitar pusaran ini sangat berbahaya bagi nyawa kalian!"

"Kami tidak peduli dengan bahaya, Arka," sahut Galin dengan napas terengah-engah, bersandar pada bilah pedangnya yang patah. "Sejak awal kita memilih berjalan di jalur ini bersama-sama, dan kita tidak akan pernah membiarkanmu memikul takdir kelam ini seorang diri."

Kehadiran kedelapan sahabat itu di sekitar Arka bagaikan dinding pelindung tak kasat mata yang menahan terjangan angin puyuh keputusasaan, mengubah atmosfer dingin medan perang menjadi kehangatan persaudaraan yang tulus.

❖ ❖ ❖

Fathan menjadi orang pertama yang berhasil mencapai sisi Arka. Dengan sisa-sisa tenaga yang dimilikinya, ia mengangkat tangan kanannya tinggi-tinggi, memperlihatkan telapak tangannya yang penuh luka gores dan noda darah kepada sang sahabat.

"Arka, pandang aku," ucap Fathan dengan suara parau namun tegas, mengalirkan keyakinan mutlak ke dalam tatapan matanya. "Apapun keputusan yang akan kau ambil detik ini—baik kau memilih menghancurkan kitab itu atau membuangnya jauh ke jurang kematian—kami, seluruh sahabatmu, akan berdiri di belakangmu tanpa keraguan sedikit pun."

Arka menatap tangan Fathan yang terangkat, lalu beralih menatap wajah pemuda itu yang dipenuhi guratan kelelahan namun memancarkan ketulusan yang luar biasa. "Tapi Fathan... risikonya adalah kehilangan seluruh sisa hidup kita. Kitab itu bisa merenggut kewarasan siapa pun yang menyentuhnya."

"Biarlah risiko itu menjadi beban kita bersama, bukan hanya beban di pundakmu seorang," timpal Rafar yang menyusul di sebelah Fathan, mengangguk mantap sambil menyeka keringat di dahinya. "Kami sudah melihat bagaimana keraguan menyiksamu, Arka. Apapun jalan yang kau pilih demi mengakhiri mimpi buruk ini, kami memberikan dukungan penuh dan mutlak kepadamu."

Yafid dan Rafar turut mengangguk menyetujui perkataan tersebut, menunjukkan solidaritas yang tidak tergoyahkan di hadapan pusaran energi hitam yang terus mendengung di udara. Di tengah dunia persilatan yang penuh dengan pengkhianatan dan intrik darah, ikatan di antara mereka terbukti jauh lebih kuat daripada baja terkuat sekalipun.

Lihat selengkapnya