Angin malam yang berembus melintasi mulut Gua Teratai Hitam terasa begitu membekukan, menembus celah-celah bebatuan dan membawa keheningan yang amat mencekam. Di dalam ruangan batu yang lembap itu, nyala lilin kecil bergetar lemah, memancarkan cahaya temaram yang nyaris tenggelam oleh kegelapan.
Di atas pembaringan batu yang dingin, tubuh Tera terbaring kaku. Wajah gadis itu pucat pasi, sementara warna kebiruan akibat racun purba kian meluas dari leher hingga ke pelipisnya. Danu dan Rhea berdiri di samping pembaringan dengan wajah yang dirundung kedukaan mendalam, sementara beberapa sahabat lainnya hanya sanggup memaku pandangan ke tanah.
Arka berdiri tepat di sisi kepala Tera. Pemuda itu memandangi wajah kekasihnya tanpa berkedip. Bibirnya yang kering bergetar pelan, menahan gelombang emosi yang berkecamuk di dalam dadanya.
"Arka..." bisik Rhea dengan suara serak, menyapu air mata yang menggenang di pipinya. "Waktu kita sudah habis. Denyut nadinya kian melemah setiap detiknya."
"Aku tahu, Rhea," sahut Arka pelan, suaranya terdengar datar namun sarat dengan beban berat yang tak tertanggungkan.
Danu melangkah maju satu tapak, memegang pundak Arka dengan tangannya yang gemetar. "Apakah benar-benar tidak ada cara lain? Jika kau melakukan hal ini, kau tahu apa konsekuensinya bagi dirimu dan masa depan seluruh persilatan?"
Arka menoleh perlahan, menatap mata Danu yang memerah. "Dunia persilatan bisa mencari pemimpin baru, Danu. Tapi aku tidak akan pernah menemukan Tera yang lain di kehidupan ini."
"Tapi Arka, itu adalah warisan tertinggi Perguruan Teratai Agung!" sela seorang tetua kelompok yang berdiri di sudut gua. "Kau telah mengorbankan darah dan keringat selama bertahun-tahun untuk menguasainya. Jika kau melepaskannya, seluruh usahamu akan musnah!"
"Apakah kesaktian ada artinya jika orang yang kucintai harus mati di depan mataku sendiri?" potong Arka tegas.
Ruangan batu itu mendadak menjadi sangat hening. Tidak ada satu pun sahabat yang berani menyanggah ucapan pemuda itu. Mereka semua tahu seberapa keras perjuangan Arka untuk mencapai puncaknya, namun mereka juga menyaksikan betapa dalamnya rasa cinta yang diikat oleh kedua pasangan tersebut.
Arka kembali mengalihkan pandangannya pada Tera. Ia menarik napas panjang, meresapi setiap hawa dingin yang memenuhi paru-parunya. Perlahan, ia memejamkan mata sejenak, mengheningkan cipta dan membuang segala keraguan yang sempat membelenggu jiwanya. Ketika ia membuka matanya kembali, ketakutan yang sebelumnya bersemayam di sana telah lenyap sepenuhnya. Tatapannya kini hanya memancarkan keteguhan cinta sejati yang tak tergoyahkan oleh apa pun.
❖ ❖ ❖
Dengan gerakan yang tenang namun mantap, Arka meraba bagian dalam jubah tempurnya yang bernoda darah kering. Jemarinya menyentuh permukaan gulungan kain sutra keemasan yang terasa hangat. Ia mengeluarkan Kitab Teratai Agung dari balik jubahnya, sebuah pusaka sakral yang selama ratusan tahun diperebutkan oleh seluruh tokoh persilatan di persada ini.
"Kitab itu..." gumam Rhea dengan napas tertahan saat melihat pancaran aura keemasan tipis yang keluar dari sampul kulitBab 72: Keputusan Mutlak Sang Pendekar
Angin malam meraung di luar Gua Gemuruh, membawa hawa dingin yang menusuk hingga ke sumsum tulang. Di dalam celah batu yang lembap itu, bau amis darah bercampur dengan aroma dupa penenang jiwa yang hampir padam. Suasana hening menekan, hanya diselingi napas tersendat yang semakin melemah dari tubuh yang terbujur kaku di atas pembaringan batu.
Arka berdiri gemetar di samping pembaringan tersebut. Pakaian tempurnya yang terkoyak di sana-sini bersimbah noda darah kering dan lumpur. Matanya menatap lekat pada wajah Tera yang kian pucat bagaikan porselen retak. Bibir gadis itu, yang biasanya mengulas senyum hangat pendamai jiwa, kini telah kehilangan seluruh warnanya. Racun Es Jiwa yang ditancapkan oleh Pendekar Iblis Rembulan beberapa jam lalu sedang menggerogoti setiap jaringan kehidupan di dalam tubuhnya.
"Arka, waktu kita tidak banyak lagi," bisik Bayu dengan suara parau. Pendekar pedang angin itu berdiri beberapa langkah di belakang Arka, memegang hulu pedangnya dengan buku-buku jari yang memutih. "Denyut nadinya semakin samar. Jika sebelum tengah malam racun itu mencapai jantungnya, tidak akan ada tabib di seluruh kolong langit ini yang mampu membangunkannya kembali."
Rinjani, yang duduk bertelut di sisi kepala Tera sambil memegang kain basah, menyapu peluh dingin dari dahi gadis itu. Air mata Rinjani menetes, jatuh di atas batu gua yang dingin.
"Apakah benar-benar tidak ada cara lain?" tanya Rinjani penuh keputusasaan, suaranya bergetar hebat. "Kita sudah menempuh perjalanan tiga hari tiga malam tanpa henti. Kita mengalahkan penjaga Lembah Kabut, tetapi apakah kita hanya akan menyaksikan Tera mati di tempat terasing ini?"
Arka tidak langsung menjawab. Dada sang pendekar berombak keras, menahan gejolak emosi yang hampir meremukkan pertahanan batinnya. Di dalam kepalanya, bayangan masa lalu berputar cepat: tawa Tera di bawah pohon persik Perguruan Teratai Putih, janjinya untuk selalu melindungi gadis itu, hingga ancaman kehancuran dunia persilatan jika warisan perguruan mereka jatuh ke tangan yang salah.
Setiap detasemen energi di dalam tubuh Arka terasa berontak. Konflik batin yang amat dahsyat berkecamuk antara kewajibannya sebagai pewaris tunggal takhta persilatan dan cintanya pada wanita yang kini berada di ambang kematian.
"Arka, katakan sesuatu!" desak Bayu, melangkah mendekat. "Jika kita menggunakan energi murni milikmu untuk menahan racun itu, kau hanya akan memperpanjang penderitaannya selama beberapa jam. Kau butuh mukjizat!"
Arka menarik napas panjang, menghembuskannya perlahan seolah membuang seluruh beban berat yang menindih dadanya selama ini. Ia memejamkan mata sejenak, membiarkan kegelapan menguasai pandangannya dan meresapi setiap detak jantungnya sendiri. Di dalam keheningan batin itu, ia menemukan satu-satunya kebenaran yang tidak bisa diganggu gugat.
Ketika ia kembali membuka matanya, tidak ada lagi keraguan, ketakutan, atau kecemasan yang tersisa. Matanya memancarkan keteguhan cinta sejati yang begitu pekat, begitu mutlak, hingga membuat Bayu dan Rinjani terperanjat mundur selangkah.
"Aku tidak butuh mukjizat, Bayu," ujar Arka dengan suara yang begitu tenang namun berbobot bagaikan gunung batu. "Aku hanya butuh keputusanku sendiri."
"Apa maksudmu, Arka?" Rinjani menatapnya bingung, menghentikan usapan kain basah di dahi Tera. "Keputusan apa yang kau maksud?"
Arka menatap Rinjani, lalu beralih menatap wajah Tera yang semakin mendingin. "Racun Es Jiwa hanya bisa dilebur dengan Energi Yang Teratai Sejati—sebuah tingkat energi yang hanya bisa dicapai dengan membakar alas dasar tenaga dalam sampai ke akarnya."
"Kau gila!" seru Bayu seketika, matanya membelalak lebar. "Jika kau melakukan itu, seluruh takdirmu sebagai pemimpin persilatan akan hancur! Kau akan kehilangan segalanya!"
"Segalanya tidak ada artinya jika Tera tidak ada di sampingku," balas Arka tanpa ragu sedikit pun.