Gua batu di kedalaman Lembah Tengkorak itu terasa begitu kaku dan membeku. Di luar, angin malam buta meliuk-liuk liar, memukul-mukul dinding tebing dengan deru menyeramkan yang menyerupai ratapan roh-roh penasaran. Namun, di dalam rongga gua yang sempit, suasana justru sangat hening—sejenis keheningan beracun yang mencekik leher.
Bau amis darah hitam dan aroma busuk dari racun purba mengendap pekat di udara. Di atas amben batu yang dingin, Tera terbaring kaku. Wajah gadis itu tak lagi memiliki warna. Kulitnya yang halus kini dipenuhi jalur-jalur urat hitam membiru yang merayap menyeramkan dari leher hingga ke pelipisnya. Dadanya kempas-kempis, mengembuskan napas yang sangat tipis dan berbau tembaga.
Arka berlutut di samping amben batu itu. Tangannya yang gemetar mengusap kening Tera yang terasa sedingin es.
"Kau harus bertahan, Tera," bisik Arka, suaranya sangat serak, pecah oleh keputusasaan yang tertahan di tenggorokan. "Aku tidak akan biarkan malam ini menjadi malam terakhirmu."
Di sekeliling mereka, anggota kelompok yang tersisa terkulai tak berdaya. Fathan, Galin, Zahra, dan yang lainnya tidak sanggup lagi berdiri. Mereka hanya bisa menatap Arka dengan pandangan sayu dan penuh duka melalui remang pendar lilin minyak yang hampir padam.
"Arka... jangan lakukan itu," desis Zahra dari sudut dinding batu. Suara tabib muda itu sangat lemah, hampir tenggelam oleh deru angin luar. "Ritual pembersihan dengan Kitab Teratai Agung... itu bukan sekadar menguras tenaga dalam. Kitab itu akan menagih bayaran yang tak sanggup kau tanggung!"
Arka tidak berpaling. Ia mengambil sebuah gulungan kitab kuno berbahan kain sutra emas yang terletak di samping tubuh Tera. Kitab Teratai Agung. Gulungan itu memancarkan aura hangat yang samar, satu-satunya penawar abadi bagi Racun Pengikis Inti Purba.
"Tidak ada jalan lain, Zahra," sahut Arka pelan namun penuh keteguhan yang tak tergoyahkan. "Napas Tera tinggal menghitung hitungan menit. Jika aku tidak bertindak sekarang, racun itu akan membusukkan jantungnya."
"Tapi Arka!" celatuk Fathan seraya terbatuk-batuk kecil, memuntahkan sisa darah kental di bibirnya. "Kau sendiri sedang terluka parah! Menggunakan kitab itu dalam keadaan begini... kau bisa kehilangan seluruh kesaktianmu!"
"Atau kehilangan nyawamu sendiri!" tambah Galin dengan mata berkaca-kaca.
Arka menatap satu per satu wajah rekan-rekannya. Ia tersenyum tipis—sebuah senyuman tulus yang sangat tenang di tengah cengkeraman maut. "Jika nyawaku atau kesaktianku bisa menebus keselamatan kalian semua, maka itu adalah harga yang sangat murah."
Arka menegakkan punggungnya. Ia meletakkan Kitab Teratai Agung tepat di atas dadanya sendiri, lalu merapatkan kedua telapak tangannya dalam posisi meditasi puncak. Ia menarik napas panjang, meresapi hawa dingin yang menusuk paru-parunya.
"Pusatkan pikiran... satukan jiwa..." gumam Arka meyakinkan dirinya sendiri.
Arka memejamkan mata rapat-rapat. Ia menyelam jauh ke dalam dasar dantian-nya, menggali sisa-sisa tenaga dalam terakhir yang masih tersisa di antara sumbatan racun purba. Dengan satu benturan kehendak yang maha dahsyat, Arka memicu seluruh sisa hawa murninya untuk mengalir keluar melalui pergelangan tangannya, menghentak langsung ke dalam lembaran Kitab Teratai Agung.
❖ ❖ ❖
BZZZZT!
Begitu sentuhan hawa murni Arka meresap ke dalam kain sutra emas tersebut, Kitab Teratai Agung mendadak terangkat melayang beberapa jengkal di atas dada Arka. Aksara-aksara kuno yang terukir di atasnya menyala terang benderang, memancarkan pendar emas kental yang membelah kegelapan gua.
KRAK! KRAK!
Gulungan kitab kuno itu bergetar sangat hebat di udara, menimbulkan suara dengungan nyaring yang menggetarkan batu-batu stalaktit di langit-langit gua. Pendar cahaya emas yang memancar dari kitab itu tidak lagi sekadar kilauan biasa; ia membual keluar bagaikan kabut suci yang sangat padat dan murni.
"Luar biasa..." gumam Kamil dengan mata terbelalak, menahan napasnya yang sesak. "Aura kitab itu... sungguh agung!"
Cahaya emas tersebut berputar-putar di udara, perlahan-lahan merajut dirinya sendiri menjadi wujud kuntum teratai raksasa dari energi spiritual murni. Petal-petal cahaya emas itu mekar satu per satu dengan keindahan yang tak tertandingi, meluas hingga melingkupi seluruh amben batu dan menyelimuti tubuh Tera dalam buaian kubah cahaya yang hangat.
"Tera!" panggil Chafia seraya memicingkan matanya yang silau.
Di dalam kubah teratai emas tersebut, urat-urat hitam di leher Tera mendadak berhenti merayap. Hawa dingin beracun yang melingkupi tubuh gadis itu mulai terusir perlahan, berganti dengan aroma harum bunga teratai suci yang menyeruak memenuhi rongga gua.