Ruang gua tersembunyi itu diselimuti oleh keheningan yang begitu magis. Cahaya keemasan yang terang benderang perlahan-lahan meredup, memudar lembut seperti butiran debu bintang yang melayang turun di udara. Di atas pembaringan batu, Tera berbaring dengan mata tertutup rapat, sementara di atas dadanya terbentang sebuah kitab kuno warisan leluhur yang permukaannya kini tampak menghitam. Kabut cahaya emas tersebut berhasil menarik keluar seluruh sisa racun purba yang mengerikan dari dalam tubuh gadis itu. Asap hitam pekat beracun yang tadinya mencengkeram erat organ dalam Tera tersedot keluar, berputar-putar di udara sebelum akhirnya terserap dan musnah sepenuhnya ke dalam abu kitab yang membara.
"Akhirnya... racun itu berhasil dikendalikan," bisik Arka dengan suara serak, napasnya terdengar sangat berat dan tersengat-sengat.
Ia berdiri terhuyung-huyung di samping pembaringan Tera, tubuhnya bergetar hebat setelah mengerahkan seluruh sisa tenaga spiritual dan inti kehidupannya untuk memandu ritual pemurnian tersebut. Keringat dingin membasahi sekujur tubuhnya, bercampur dengan noda darah kering dari pertempuran sebelumnya. Arka menatap wajah Tera yang kini tampak lebih tenang, tidak lagi menunjukkan kesakitan yang luar biasa seperti beberapa jam sebelumnya.
"Arka... apa yang kaulakukan?" suara lemah terdengar berbisik dari bibir Tera yang perlahan-lahan mulai bergerak. Gadis itu membuka matanya sayu, menatap pemuda di sampingnya dengan pandangan yang masih kabur.
"Hanya... memastikan kau selamat, Tera," jawab Arka dengan senyuman tipis yang menyembunyikan keletihan yang luar biasa di balik wajahnya yang pucat pasi.
❖ ❖ ❖
Keajaiban terjadi di hadapan mata mereka sendiri. Warna kulit Tera yang tadinya membiru pucat akibat sengatan racun purba berangsur-angsur kembali hangat. Rona kemerahan yang normal perlahan-lahan pulih di pipinya, menandakan bahwa aliran darah dan sirkulasi energi di dalam tubuh gadis itu telah kembali bersih dari segala ancaman maut.
Tera mengangkat tangan kanannya perlahan, meraba dadanya sendiri dengan ekspresi tak percaya. "Racun itu... rasanya sudah hilang. Rasa sakit di punggungku... sudah tidak ada."
"Kitab leluhur telah menyerap semuanya," kata Arka lirih, suaranya semakin melemah dan terdengar seperti hembusan angin. "Kau sudah aman sekarang, Tera. Tidak ada lagi yang perlu kau khawatirkan."
Tera bangkit dengan bertumpu pada sikunya, menatap Arka tajam dengan sisa-sisa kesadarannya. Namun, saat ia melihat kondisi fisik pemuda di hadapannya, alisnya bertaut dalam karena panik. "Arka, wajahmu... kau terlihat sangat mengerikan. Ada apa dengan energimu?"
Arka tidak sempat menjawab pertanyaan itu. Pengorbanan besar yang ia lakukan untuk mengaktifkan kitab kuno dan menarik racun dari tubuh Tera menuntut bayaran yang setimpal. Hukum alam dari tenaga dalam leluhur tidak pernah memberikan jalan pintas tanpa tumbal.
❖ ❖ ❖