Suasana di dalam gua tersembunyi itu masih diselimuti oleh keheningan yang mencekam, diiringi suara rintik hujan yang mulai mereda di luar sana. Tetesan air sesekali jatuh dari celah stalaktit, menghantam permukaan batu dengan bunyi yang berirama konstan. Di sudut ruangan yang remang-remang, Arka terduduk bersandar kaku pada dinding batu, wajahnya sepucat kertas dan napasnya nyaris tak terdengar setelah mengerahkan seluruh sisa tenaga dalam untuk menolak kutukan maut.
Beberapa saat kemudian, sebuah keajaiban yang tidak masuk akal terjadi di tengah keputusasaan tersebut. Kelopak mata Tera perlahan bergerak membuka, memperlihatkan manik matanya yang kembali jernih dari kabut hitam kematian.
Dada gadis itu naik turun perlahan, menghirup udara segar dengan napas yang kembali teratur dan stabil. Rasa dingin yang selama berjam-jam membekukan aliran darahnya mendadak lenyap, digantikan oleh kehangatan asing yang mengalir lancar di setiap pembuluh nadinya.
"Ugh..." erang Tera pelan, suaranya terdengar parau namun jelas di dalam gua yang sunyi. Ia mencoba menggerakkan jari-jarinya, merasakan kekuatan hidup yang kembali berdenyut di dalam tubuhnya yang sempat terkulai tak berdaya.
Tera mencoba bangkit dari baringan jubah tempatnya meregang nyawa tadi. Kepalanya sedikit pusing, namun kesadarannya kembali utuh dalam waktu singkat. Ia menatap kedua tangannya sendiri dengan perasaan tidak percaya, seolah ia baru saja terbangun dari mimpi buruk yang sangat panjang dan melelahkan.
"Apa yang... sebenarnya terjadi?" bisik Tera pada dirinya sendiri, matanya menyapu sekeliling sudut gua yang temaram oleh cahaya obor yang hampir padam.
Di sampingnya, tidak ada suara lain selain deru angin malam yang mulai melemah. Tubuhnya terasa ringan, bersih dari segala rasa sakit yang tadinya meremukkan tulangnya. Namun, kebingungan langsung menggantikan rasa lega tersebut begitu ia menyadari ada sesuatu yang sangat janggal di sekitarnya.
❖ ❖ ❖
Tera mengerjap beberapa kali untuk menyesuaikan penglihatannya dengan cahaya obor yang menari-nari di dinding gua. Ia mengangkat tangan untuk menyentuh lehernya sendiri, tempat di mana garis-garis kehitaman racun purba tadinya menjalar mengerikan.
Kulitnya mulus. Tidak ada lagi tanda-tanda kutukan, tidak ada lagi rasa perih yang membakar. Ia merasakan tubuhnya benar-benar bersih dari cengkeraman racun purba yang hampir merenggut nyawanya beberapa saat lalu. Racun itu telah hilang sepenuhnya tanpa meninggalkan bekas sedikit pun.
"Bagaimana bisa..." gumam Tera, suaranya bergetar hebat saat ia menyadari bahwa tingkat pemulihan ini melampaui kemampuan ramuan penawar mana pun di dunia persilatan.
Ia mencoba mengingat detik-detik terakhir sebelum kesadarannya terenggut. Ia ingat bagaimana dinginnya maut merayap, bagaimana suaranya melemah, dan bagaimana Arka mendekapnya erat sambil menangis putus asa di tengah badai keputusasaan.
Tera menoleh cepat ke sisi kanannya, mencari sosok pemuda yang telah menemaninya berjuang melewati berbagai pertempuran maut tersebut. Namun, pemandangan yang menyambut matanya membuat jantungnya seolah berhenti berdetak seketika.
Sesaat setelah kesadarannya pulih sepenuhnya, ia mendapati Arka terbaring pucat tak sadarkan diri di atas tanah yang dingin. Pria itu tersandar lemas pada dinding batu, dengan kepala terkulai ke samping dan tangan yang terkulai lemas di atas tanah.