Malam di reruntuhan benteng utama Golongan Hitam menyisakan keheningan yang teramat pekat. Suara pertempuran telah lama sirna, digantikan oleh desau angin malam yang membawa hawa dingin menusuk tulang. Di atas lantai marmer yang berlumuran darah kering dan debu reruntuhan, Tera berlutut dengan napas memburu. Ia mendekap tubuh Arka yang terkulai lemas di pangkuannya. Pria yang selama ini dikenal sebagai pemimpin tangguh dan tanpa rasa takut itu kini terbaring tak berdaya, dengan luka robek menganga di dada kirinya akibat hantaman telapak maut sang pimpinan musuh.
Tera menundukkan kepalanya, menempelkan telinganya ke dada Arka. Ia dapat merasakan kehangatan napas pria itu yang kini melambat jauh di bawah batas normal seorang pendekar silat tingkat tinggi. Setiap detak yang terpantul terasa semakin lemah, bagai nyala lilin kecil yang hampir padam ditiup angin malam.
"Arka... kumohon, bertahanlah," bisik Tera dengan suara serak parau, air matanya menetes jatuh dan membasahi pipi Arka yang pucat pasi.
Arka membuka kelopak matanya perlahan-lahan. Tatapannya sayu, nyaris kehilangan binar tenaga dalam yang biasanya selalu memancar terang. Bibirnya yang berlumuran darah tersenyum tipis, berusaha meyakinkan wanita di hadapannya bahwa ia baik-baik saja meski raganya sudah berada di ambang batas kehancuran.
"Jangan menangis, Tera... aku baik-baik saja," kata Arka terbata-bata, suaranya nyaris tenggelam oleh desau angin. "Aku... berhasil melindungimu... itu sudah lebih dari cukup bagiku."
"Jangan bicara lagi, Arka! Kau tidak boleh menyerah sekarang!" rintih Tera, mempererat dekapan tangannya di tubuh Arka yang semakin mendingin.
❖ ❖ ❖
Isak tangis Tera yang selama ini ia tahan akhirnya pecah tak tertahankan. Suara tangisannya menggema lirih di antara reruntuhan dinding batu, mencerminkan kepedihan jiwa yang teramat sangat. Di tengah deru napas Arka yang semakin tersengat, memori masa lalu berkelebat cepat di benak Tera, menghantam kesadarannya tanpa ampun.
Tera sangat menyesali sikap dingin dan egonya di masa lalu. Ia teringat betapa sering ia menolak uluran tangan Arka, bersikap angkuh, dan memperdebatkan hal-hal sepele yang hampir membuat mereka terpisah selamanya oleh maut yang kejam ini.
"Bodoh... aku memang wanita paling bodoh di dunia persilatan," isak Tera, mencengkeram jubah Arka yang robek dengan jemari gemetar hebat. "Kenapa aku baru menyadari betapa berartinya dirimu saat maut sudah berada di hadapan kita? Kenapa aku begitu egois menolak perasaanmu dulu?"
Arka menggelengkan kepalanya lemah. Ia mengangkat tangan kanannya dengan susah payah, lalu menyentuh pipi Tera yang basah oleh air mata, menghapus butiran bening tersebut dengan ibu jarinya yang kasar.