Desir angin pagi menyapu reruntuhan batu di lembah sunyi, membawa sisa-sisa embun yang menempel pada jubah para anggota kelompok yang tersisa. Selama bertahun-tahun, sifat dingin, kaku, dan jarak emosional yang selama ini menyelimuti diri Tera seolah menjadi benteng es tak tertembus yang memisahkannya dari dunia luar. Ia jarang sekali berbicara panjang lebar, lebih memilih menyembunyikan setiap luka batin di balik tatapan mata yang tajam dan sikap acuh tak acuh kepada siapa pun, termasuk rekan-rekan terdekatnya.
Namun, benteng es itu kini runtuh total tanpa sisa setelah peristiwa pengorbanan Arka yang hampir merenggut nyawa pemuda itu. Bayangan saat Arka mempertaruhkan seluruh sisa tenaga dalamnya untuk melindungi mereka dari amukan musuh terus berputar di kepala Tera, mencairkan segala ketakutan dan dinding ego yang selama ini ia bangun rapat-rapat di dalam hatinya.
Tera duduk bersila di samping Arka yang terbaring lemah di atas hamparan rumput hijau, jemarinya dengan lembut menggenggam tangan pemuda itu yang kini terasa dingin dan kehilangan seluruh pendar tenaga dalamnya. Tidak ada lagi ekspresi kaku di wajahnya; yang tersisa hanyalah kelembutan mendalam bercampur tekad baja yang membara.
"Kau sudah berjuang terlalu keras sendirian, Arka," bisik Tera pelan, matanya berkaca-kaca menatap wajah Arka yang pucat pasi tanpa daya. "Sekarang, izinkan aku yang menjaga dan memikul beban ini untukmu."
Fathan dan Galin yang berdiri beberapa langkah di belakangnya saling berpandangan dengan rasa takjub bercampur keheranan. Mereka tidak pernah melihat sisi diri Tera yang seperti ini sebelumnya. Perubahan drastis itu terjadi begitu cepat, seolah sebuah badai emosi telah membersihkan seluruh es dingin yang membeku di dalam jiwa gadis tersebut.
"Bagaimana keadaannya, Tera?" tanya Galin dengan suara hati-hati, takut merusak keheningan yang menyelimuti ruang kecil di antara mereka berdua.
Tera mendongakkan kepalanya perlahan, menatap kedua sahabat lamanya itu dengan sorot mata yang tidak lagi memancarkan jarak. "Nadi utamanya masih sangat lemah, Galin. Tapi ia masih bernapas, dan itu sudah lebih dari cukup bagiku untuk tidak menyerah pada keadaan ini."
❖ ❖ ❖
Tera melepaskan genggaman tangannya dari tangan Arka secara perlahan, lalu bangkit berdiri tegak di atas tanah berbatu. Posturnya tampak lebih mantap daripada sebelumnya, memancarkan aura keteguhan yang membuat siapa pun yang melihatnya merasa seolah-olah sedang berhadapan dengan sosok pendekar senior yang penuh wibawa.
"Apa yang akan kita lakukan selanjutnya, Tera? Pasukan musuh mungkin masih mencari jejak kita di sekitar lembah ini," tanya Fathan dengan nada cemas, melirik ke arah jalan setapak di kejauhan.
Tera bangkit berdiri dengan tatapan mata yang memancarkan keteguhan baja, siap mengambil alih peran melindungi Arka yang kini tengah kehilangan seluruh kesaktiannya. Simbol teratai emas di punggung tangan kanannya berpendar terang seirama dengan detak jantungnya yang tenang.
"Kita tidak akan bersembunyi lagi," jawab Tera dengan suara tegas yang bergemerincing mantap di telinga Fathan dan Galin. "Arka telah menyerahkan seluruh bebannya kepada kita, dan kini giliran kita untuk melindunginya dari segala ancaman yang datang."
Galin mengerjap takjub, merasakan energi spiritual yang dipancarkan oleh Tera begitu berbeda dari hari-hari sebelumnya. "Kau... kau terdengar sangat berbeda, Tera. Keputusan besar apa yang sedang bergolak di dalam pikiranmu?"
"Tidak ada keraguan lagi, Galin," balas Tera sambil menatap lurus ke depan. "Selama ini Arka selalu berada di garis terdepan untuk menanggung beban Kitab Teratai Agung dan melindungi kita semua. Sekarang, ketika ia terjatuh dan kehilangan kekuatannya, aku tidak akan tinggal diam dan membiarkan musuh merendahkannya."