Udara di dalam pos medis darurat terasa begitu pekat dan menyesakkan dada, dipenuhi oleh kepulan asap tipis dari tungku kecil tempat Chafia merebus ramuan akar ginseng gunung. Di atas alas jerami yang dilapisi kain kain bersih, Arka terbaring kaku dengan wajah yang kehilangan seluruh warna kemerahannya. Pengorbanan besar yang ia lakukan dengan merelakan inti sari Kitab Teratai Agung demi menyelamatkan nyawa Fathan dan Galin meninggalkan dampak yang jauh lebih mengerikan dari perkiraan siapa pun. Hilangnya sumber kesaktian legendaris tersebut secara tiba-tiba menciptakan kekosongan masif di dalam dantian Arka, memicu kehancuran hebat di sepanjang jalur meridien tubuhnya.
Zahra dan Chafia langsung bergerak cepat mengambil alih perawatan Arka, menyadari bahwa hilangnya kesaktian akibat Kitab Teratai Agung meninggalkan luka parah di jalur meridien tubuh Arka. Gerakan kedua tabib muda itu sangat cekatan, tidak menyia-nyiakan sepersekian detik pun waktu yang tersisa di tengah malam yang semakin larut.
"Kondisinya sangat kritis, Chafia," bisik Zahra dengan napas memburu, tangannya sibuk menyiapkan mangkuk kecil berisi serbuk mutiara putih. "Jalur meridien utamanya mengalami kejut energi karena chi spiritual kitab itu tersedot keluar secara paksa dalam satu malam."
Chafia mengangguk cepat, tangannya gemetar namun tetap terkontrol saat ia meraba pergelangan tangan Arka yang terasa sangat dingin. "Kita harus bertindak sekarang juga sebelum kerusakan itu menyebar ke jantung dan otaknya. Siapkan jarum akupunktur emas dan minyak angin kutub!" serunya penuh desakan.
Tera berdiri di sudut tenda medis dengan tangan terkepal erat di depan dada, air mata yang tertahan membuat matanya berkaca-kaca menatap pria yang dicintainya terbaring tak berdaya. "Apakah... apakah dia akan selamat, Zahra? Katakan yang sejujurnya."
Zahra menoleh sekilas ke arah Tera, memberikan senyuman tipis yang menyembunyikan kekhawatiran mendalam. "Kami akan melakukan segala cara yang kami bisa, Tera. Arka adalah pejuang yang kuat, tapi tubuh manusianya memiliki batas ketahanan."
Di sekitarnya, Fathan dan Galin—yang kini racun di tubuhnya telah berhasil ditarik keluar—duduk bersila dengan wajah pucat di dekat pintu tenda. Mereka menatap tajam ke arah Arka dengan perasaan bersalah yang menghujam ulu hati mereka. Semua ini terjadi karena Arka mempertaruhkan nyawa dan pusaka leluhurnya demi keselamatan mereka berdua.
"Ini semua salahku," gumam Galin tertahan, memukul lantai tanah dengan kepalan tangannya sendiri. "Seharusnya aku tidak membiarkan dia melakukan hal gila itu."
"Sudahlah, Galin, penyesalan tidak akan mengembalikan keadaan," potong Fathan dengan suara parau, menatap nanar ke arah Arka yang mulai menunjukkan kejang-kejang kecil akibat rasa sakit hebat di dalam tubuhnya. "Yang harus kita lakukan sekarang adalah percaya pada Zahra dan Chafia."
❖ ❖ ❖
Suasana di dalam pos medis mendadak sunyi senyap, menyisakan suara desau angin malam dan suara air mendidih dari tungku ramuan. Berbagai ramuan herbal penyeimbang jiwa dan jarum akupunktur emas ditusukkan ke titik-titik vital tubuh Arka untuk mencegah kerusakan organ dalam permanen akibat hantaman kejut energi dari lenyapnya Kitab Teratai Agung.
Zahra memusatkan seluruh perhatiannya pada titik Hegu dan Baihui di kepala Arka, menancapkan jarum emas pertama dengan ketepatan milimeter yang luar biasa. "Chafia, pegang bahunya. Aliran darahnya mulai bergejolak ke arah kepala," instruksi Zahra dengan nada tegas.
Chafia langsung bergerak menahan tubuh Arka yang mulai melengkung ke atas akibat rasa sakit yang luar biasa di jalur sarafnya. "Tahan, Arka... bertahanlah," bisik Chafia sambil menyalurkan sedikit tenaga medisnya untuk meredam gelombang gejolak darah yang liar tersebut.
Di luar tenda, Ki Ranu berdiri berjaga dengan pedang terhunus, memastikan tidak ada gangguan sekecil apa pun dari luar yang bisa membuyarkan konsentrasi kedua tabib muda itu. Setiap detik terasa berjalan begitu lambat, diukur dari tetesan keringat yang jatuh dari pelipis Zahra ke atas pipi Arka.
"Jarum kedua di titik Quchi sudah masuk," lapor Chafia dengan napas terengah-engah, melihat pendar cahaya keemasan sisa-sisa tenaga dalam Arka perlahan-lahan mulai meredup, berganti dengan warna gelap racun sisa yang masih mencoba bertahan.
"Sial, sisa racun purba itu rupanya masih bersarang di dinding lambungnya!" seru Zahra terkejut saat melihat ujung jarum akupunktur yang ia cabut berubah menjadi kehitaman. "Mereka mengira racun itu sudah bersih sepenuhnya, padahal sebagian kecilnya bersembunyi di balik cangkang chi kitab!"
Mendengar hal itu, Tera melangkah mendekat dengan cemas. "Maksudmu... racun itu masih ada di dalam tubuh Arka?"
"Ya, dan sekarang saat pertahanan chi kitabnya runtuh, racun itu mulai menyerang balik organ pencernaannya!" jawab Zahra dengan suara panik yang tidak bisa ia sembunyikan lagi.