KEMELUT TERATAI KEMBAR

Amrullah Ibrahim
Chapter #79

Bisikan Hitam di Sarang Musuh

Suasana di dalam aula utama markas besar Golongan Hitam terasa begitu kelam, diterangi oleh nyala api obor berwarna hijau kebiruan yang memantulkan bayangan menyeramkan di dinding batu pualam hitam. Di tengah ruangan yang luas itu, sebuah cermin spiritual berbentuk lingkaran besar terapung di atas altar batu berukir tengkorak manusia. Permukaan cermin tersebut memancarkan pendar cahaya magis yang berdenyut tidak beraturan, mencerminkan gejolak energi gaib yang terpancar dari wilayah perbatasan tempat kelompok Arka bersembunyi.

Hilangnya pancaran energi agung dari Kitab Teratai Agung terdeteksi oleh jaring mata-mata spiritual Golongan Hitam yang memantau wilayah tersebut dari kejauhan. Gelombang energi emas yang biasanya membentengi markas Arka dengan kekuatan mutlak kini mendadak meredup, menyisakan getaran-getaran lemah yang hampir tak kasat mata di dalam dimensi gaib.

"Guru spiritual agung, perhatikan permukaan cermin itu!" seru seorang panglima perang berwajah paruh baya dengan jubah hitam bersulam benang perak, menunjuk ke arah cermin spiritual dengan ekspresi wajah yang dipenuhi rasa takjub sekaligus curiga. "Pancaran energi dari pusaka legendaris kelompok Arka... tiba-tiba menghilang!"

Pendeta agung Golongan Hitam, sosok tua bertubuh kurus kering dengan mata putih tanpa pupil, melangkah mendekati altar dengan tongkat tengkoraknya. Ia membungkuk perlahan, merapalkan mantra pelacak kuno sambil mengibaskan tangannya di atas permukaan cermin spiritual yang bergetar hebat.

"Kau benar, Panglima," suara pendeta agung itu terdengar serak dan berderit bagai gesekan dahan kering di tengah badai malam. "Perisai agung yang selama ini melindungi markas mereka telah padam. Getaran tenaga dalam yang menyelimuti wilayah itu telah lenyap tak bersisa."

Panglima perang itu menyeringai lebar, menampakkan gigi-giginya yang kekuningan di balik cahaya obor hijau. "Bagaimana mungkin sebuah pusaka suci penolak bala bisa padam begitu saja? Apakah Arka dan kelompoknya sengaja menjebak kita dengan tipu daya baru?"

"Tidak, ini bukan tipu daya," jawab pendeta agung sambil menggelengkan kepalanya perlahan, meraba sisa-sisa debu energi spiritual yang melayang di udara. "Aku bisa merasakan kepedihan dan runtuhnya aliran tenaga dalam dari jarak jauh. Pusaka itu tidak disembunyikan; energinya terkuras habis untuk sesuatu yang sangat besar dan mempertaruhkan nyawa."

Bisikan-bisik mulai terdengar dari para komandan pasukan yang berdiri di sekeliling aula utama. Mereka saling melempar pandangan penuh tanya, menyadari bahwa peristiwa langka ini merupakan sebuah anomali besar yang belum pernah terjadi selama puluhan tahun konflik antara faksi mereka dengan kelompok Arka.

"Apakah mungkin Arka menggunakan seluruh kekuatan kitab itu untuk menyembuhkan seseorang yang sekarat?" tanya salah seorang panglima divisi penyerang dengan nada ragu-ragu.

"Apa pun alasannya, akibatnya sudah sangat jelas di hadapan kita," desis pendeta agung dengan senyuman penuh arti. "Pusaka terkuat mereka kini telah kehilangan nyawanya."

❖ ❖ ❖

Kabar melemahnya kesaktian kitab pusaka Arka langsung sampai di telinga pimpinan tertinggi Golongan Hitam dalam waktu singkat, dibawa oleh burung gagak bermata tiga yang mendarat tepat di atas singgasana tulang belukar sang pemimpin. Sang Pemimpin Tertinggi, sosok misterius yang wajahnya selalu tertutup topeng besi berukir tanduk iblis, perlahan bangkit dari singgasananya yang megah. Ia menangkap gulungan pesan magis dari kaki burung gagak tersebut dan membacanya dalam keheningan aula yang mendadak membeku.

"Pimpinan, berita dari mata-mata spiritual di perbatasan utara sudah dikonfirmasi," lapor panglima perang berzirah hitam sambil membungkuk hormat di hadapan singgasana. "Kitab Teratai Agung milik Arka telah padam total. Arka telah mengorbankan inti kesaktiannya."

Sang Pemimpin Tertinggi terdiam sejenak, meresapi setiap kata yang tertera di dalam pesan magis tersebut. Suara tawanya yang dingin dan berat kemudian menggema memenuhi seluruh sudut aula, membuat siapa pun yang mendengarnya merinding ketakutan.

"Arka... pemuda bodoh yang selalu membanggakan moralitas dan belas kasih," suara sang pemimpin terdengar bergetar di balik topeng besinya. "Ia telah menghancurkan satu-satunya pelindung terkuatnya sendiri demi menyelamatkan seorang wanita lemah di kelompoknya."

"Ini adalah kesempatan emas yang tidak boleh kita sia-siakan, Pimpinan," timpal panglima perang dengan sorot mata penuh ambisi membara. "Tanpa perlindungan kitab pusaka itu, Arka hanyalah manusia biasa yang tidak memiliki daya apa-apa di hadapan pasukan elit kita."

Lihat selengkapnya