KEMELUT TERATAI KEMBAR

Amrullah Ibrahim
Chapter #80

Keputusan untuk Menghabisi Sampai Tuntas

Malam di benteng utama Golongan Hitam menyuguhkan pemandangan yang begitu kelam dan menyesakkan. Udara dipenuhi oleh bau belerang dan asap pekat dari tungku-tungku penempaan senjata yang menyala tanpa henti. Di ruangan singgasana yang luas dan suram, dinding-dinding batu hitamnya dihiasi oleh panji-panji bergambarkan tengkorak bertaring yang berkibar pelan tertiup angin malam dari jendela tinggi. Di atas singgasana besar yang terukir dari batu obsidian, sang pimpinan tertinggi Golongan Hitam duduk dengan angkuh, jubah hitamnya menjuntai menutupi lantai batu yang dingin.

Di singgasana hitamnya, pimpinan tertinggi Golongan Hitam mendeklarasikan perintah mutlak untuk melancarkan serangan penghabisan ke gua persembunyian kelompok.

Mata sang pimpinan memancarkan kilau kebencian yang mendalam, menatap tajam ke arah para jenderal perang yang berlutut di hadapannya dalam keheningan total. Dokumen rahasia yang berhasil direbut oleh kelompok Arka beberapa waktu lalu telah membuat mereka kehilangan kendali atas strategi jangka panjang, dan hal itu tidak bisa dimaafkan.

"Kalian semua tahu apa arti dari kegagalan unit pengawas kita di perbatasan," suara sang pimpinan menggema berat, dingin, dan mematikan di seluruh ruangan singgasana. "Sekelompok tikus kecil yang menamakan diri mereka pejuang keadilan itu kini bersembunyi di balik tirai air terjun, mencoba menggali kubur mereka sendiri."

Jenderal perang terdepan, seorang bertubuh raksasa dengan bekas luka melintang di wajahnya, mengangkat kepala perlahan. "Ampuni kami, Yang Mulia. Kami telah mengerahkan unit mata-mata, namun persembunyian mereka di balik lembah air terjun terhalang oleh medan yang sulit dijangkau."

"Aku tidak butuh alasan, Jenderal!" bentak sang pimpinan bangkit dari singgasananya, tatapannya menyala penuh amarah. "Cukup sudah permainan kucing-kucingan ini. Aku tidak ingin ada lagi laporan tentang kegagalan atau keraguan di barisan kita."

Ia mengepalkan tinjunya hingga buku-buku jarinya bergemeretak keras. "Mulai detik ini, singkirkan segala bentuk taktik pengintaian lambat. Kerahkan seluruh kekuatan penuh kita untuk menghancurkan mereka sampai ke akar-akarnya tanpa sisa!"

❖ ❖ ❖

Deklarasi mutlak itu langsung mengubah atmosfer di dalam benteng utama Golongan Hitam menjadi mesin perang yang bergerak tanpa belas kasihan. Perintah sang pimpinan tertinggi menyebar dengan cepat ke setiap sudut markas, memicu kesibukan militer yang luar biasa di antara para prajurit elit.

Tidak ada lagi strategi penyusupan atau intrik perlahan; musuh mengerahkan seluruh kekuatan penuh, termasuk para pendekar bayangan elite dan pasukan pemanah beracun.

Di lapangan latihan yang luas di bawah temaram obor, para pendekar bayangan berzirah hitam legam tampak mengasah bilah pedang mereka yang berlumur racun mematikan. Gerakan mereka begitu cepat dan senyap, mencerminkan latihan bertahun-tahun dalam seni pembunuhan massal.

Komandan pasukan pemanah, seorang wanita kejam bermata tajam, berdiri di hadapan ratusan prajurit pemanah beracun, memberikan instruksi terakhir sebelum mereka bergerak meninggalkan markas.

"Target kita adalah gua tersembunyi di balik air terjun," seru sang komandan dengan suara melengking tajam memecah malam. "Tidak ada ampun, tidak ada tawanan perang. Siapa pun yang keluar dari gua itu, hidup atau mati, harus dipastikan binasa di tempat!"

Para prajurit menghentakkan tombak mereka ke tanah secara bersamaan, menciptakan suara dentuman keras yang bergemuruh di dinding-dinding benteng. Mereka bukan lagi pasukan biasa, melainkan mesin pembunuh yang disiapkan khusus untuk memusnahkan perlawanan terakhir di dunia persilatan.

Lihat selengkapnya