Suasana di dalam gua persembunyian utama terasa begitu tegang dan mencekam. Di tengah cahaya temaram dari obor dinding yang mulai meredup, para sahabat bergerak cepat dalam diam untuk mempersiapkan diri menghadapi gelombang serangan terakhir dari Golongan Hitam. Fathan dan Galin sibuk menajamkan bilah pedang mereka di sudut ruangan, sementara Zahra dan Chafia menyiapkan ramuan penawar serta perban terakhir di atas meja kayu. Semua orang tahu bahwa waktu mereka sudah hampir habis, dan pertarungan hidup mati di ambang pintu tidak bisa dihindari lagi.
Di atas sebuah pembaringan bambu yang sederhana di tengah ruangan, Arka terbaring kaku sejak malam pengorbanan besar yang menghancurkan inti Kitab Teratai Agung. Wajahnya pucat pasi, dan napasnya terdengar begitu pelan, seolah nyawa pemuda itu sedang tergantung di ujung sehelai benang tipis. Tera duduk bersimpuh setia di samping pembaringan tersebut, jemarinya menggenggam erat tangan Arka yang terasa dingin, sementara air mata tanpa sadar terus menetes membasahi punggung tangan sang pemimpin muda.
"Arka... kumohon, sadarlah. Kami semua membutuhkanmu di sini," bisik Tera parau, suaranya bergetar hebat menahan kesedihan yang teramat sangat.
Tiba-tiba, di tengah kesunyian ruangan dan kesibukan para sahabat yang bersiap menghadapi maut, sebuah keajaiban kecil yang tak terduga terjadi. Jari-jari tangan Arka yang tadinya terkulai lemas di atas selimut mendadak bergerak pelan, melentur ke depan dan menggenggam balik jemari Tera dengan kehangatan yang sangat tipis.
Tera terkesiap seketika, napasnya tertahan di tenggorokan. Ia menunduk semakin dekat ke arah wajah Arka, memperhatikan setiap perubahan kecil yang terjadi pada diri pemuda yang sudah berhari-hari tidak sadarkan diri itu. Suasana di sekitar gua seolah membeku, mengalihkan seluruh perhatian para sahabat yang langsung menghentikan aktivitas mereka dan menoleh secara bersamaan ke arah pembaringan tersebut dengan mata membelalak penuh harap.
❖ ❖ ❖
Tera memekik tertahan, air matanya pecah bukan lagi karena kesedihan, melainkan oleh gelombang kelegaan yang luar biasa besar meluap di dadanya. "Teman-teman! Kemarilah! Arka... Arka bergerak!" serunya dengan suara bergetar nyaring ke seluruh sudut ruangan.
Mendengar teriakan itu, Fathan, Galin, Zahra, Chafia, dan yang lainnya langsung menjatuhkan senjata serta ramuan di tangan mereka, berlari bergegas mendekati pembaringan. Di bawah tatapan penuh harap dari kedelapan sahabat setianya, kelopak mata Arka yang tertutup rapat selama berhari-hari perlahan-lahan mulai terbuka. Sinar lampu obor yang menyilaukan membuat matanya berkedip beberapa kali, menyesuaikan diri dengan cahaya sebelum akhirnya menatap sayu ke arah langit-langit gua dan beralih ke wajah Tera yang bersimbah air mata.
"Tera...?" bisik Arka dengan suara yang sangat parau, hampir tidak terdengar di telinga.
"Ya, Arka, aku di sini! Kami semua ada di sini bersamamu," jawab Tera isak tertahan, mengusap pelan pipi Arka dengan penuh kelembutan.
Fathan yang berdiri di belakang Tera ikut tersenyum lebar, meski matanya sendiri tampak berkaca-kaca menahan haru. "Kau benar-benar kembali, kawan. Kami tahu kau tidak akan meninggalkan kami begitu saja di tengah jalan."
Arka mencoba mencerna keadaan di sekelilingnya, mengenali wajah-wajah penuh kelegaan dari sahabat setianya yang berdiri mengelilingi pembaringan. Meskipun ia merasa sadar sepenuhnya, ada sensasi hampa yang teramat aneh merayap di dalam rongga dadanya, seolah bagian terbesar dari dirinya telah hilang dan lenyap tak bersisa akibat pengorbanan besar yang ia lakukan untuk melumpuhkan kutukan kitab pusaka beberapa malam lalu.