KEMELUT TERATAI KEMBAR

Amrullah Ibrahim
Chapter #82

Rapat Strategi di Ambang Maut

Asap tipis sisa pembakaran dupa penenang jiwa masih mengambang di udara ruang tengah markas darurat Lembah Sunyi. Di atas balai kayu yang dilapisi kain tipis, Arka perlahan mencoba menegakkan punggungnya. Tubuhnya masih sangat lemah, wajahnya pucat, dan napasnya pendek-pendek setelah baru saja melewati ambang batas antara hidup dan mati. Setiap kali ia mencoba menggerakkan bahunya, rasa nyeri yang menusuk menembus dada.

"Jangan dipaksakan berdiri dulu, Arka," tegur Tera lembut seraya menahan dada pemuda itu. Tangannya yang masih dingin memegang erat jemari Arka.

"Aku harus bangun, Tera..." bisik Arka seraya memuntahkan hawa dingin dari sela-sela giginya. "Pasukan Golongan Hitam sudah mendekati batas luar lembah. Aku tidak bisa hanya berbaring di sini."

"Kondisimu belum pulih sepenuhnya, Arka!" sela Danu dengan raut wajah cemas. "Tenaga dalammu masih membeku. Jika kau memaksa memegang pedang sekarang, kau hanya akan bunuh diri!"

Sebelum perdebatan singkat itu memanjang, langkah kaki yang tegap dan teratur bergema dari arah pintu masuk. Kamil, Rafar, dan Yafid melangkah masuk ke dalam ruangan dengan pakaian tempur yang sudah terikat rapi. Raut wajah ketiga tokoh senior itu tampak begitu kelam, menandakan bahaya besar yang sudah berada tepat di ambang pintu.

Melihat Arka yang meringis kesakitan, Kamil melangkah maju dan memegang pundak sang pemimpin muda dengan penuh wibawa. "Tetaplah duduk, Arka. Biarkan kami yang memikul beban ini untuk sementara."

"Kamil... tapi musuh—"

"Kami tahu situasi di luar," potong Rafar cepat. Matanya menyipit tajam, memancarkan aura ketegasan seorang panglima perang. "Pasukan utama musuh sudah mengepung tiga mata angin Lembah Sunyi. Kita tidak punya waktu untuk meratapi keadaan."

Yafid mengangguk seraya menggeser sebuah meja kayu tebal ke tengah ruangan. "Menghadapi situasi darurat ini, di saat kau baru saja sadar, kami bertiga akan langsung mengambil alih komando pertahanan. Kau fokus saja memulihkan energi murnimu."

"Apakah kalian yakin?" tanya Rhea seraya melangkah mendekati meja. "Jumlah pasukan musuh lima kali lipat lebih banyak dari sisa prajurit kita."

"Justru karena itulah rapat perang terakhir ini harus digelar sekarang juga," tegas Kamil. Ia menoleh ke arah seluruh anggota kelompok yang berkumpul di ruangan itu. "Duduklah kalian semua. Kita susun taktik terakhir ini bersama-sama!"

Arka bersandar pada dinding kayu, memandangi ketiga sahabat seniornya yang kini berdiri mengepung meja. Rasa bangga dan haru menyusup ke dadanya di tengah keputusasaan yang melingkupi tempat itu.

❖ ❖ ❖

Sret!

Rafar membentangkan peta medan pertempuran berbahan kulit domba yang sudah kusam di atas meja kayu. Dengan sekali sentakan jari, ia menancapkan dua belati kecil di ujung-ujung peta agar tidak tergulung kembali. Seluruh mata anggota kelompok tertuju pada garis-garis merah dan hitam yang menggambarkan topografi rumit Lembah Sunyi.

"Perhatikan baik-baik," ujar Rafar seraya menunjuk titik merah di bagian utara peta. "Garis pertahanan depan kita di celah Bukit Tengkorak sudah jebol total sejak dua jam lalu."

"Bagaimana dengan jalur pelarian ke arah barat?" tanya Danu cepat seraya mencondongkan tubuhnya di atas meja. "Bukankah kita masih bisa mundur menembus Hutan Hitam?"

Rafar menggelengkan kepala dengan raut wajah serius. Ia mengetuk titik hitam di sebelah barat peta menggunakan gagang belatinya. "Tidak ada jalur pelarian lagi, Danu. Pasukan garis depan musuh yang dipimpin oleh Tiga Pelindung Iblis telah menutup seluruh celah barat dan selatan."

"Apakah itu artinya kita benar-benar terkepung?" tanya Tera, suaranya terdengar tercekat.

"Tepat sekali," sahut Rafar tegas. "Rafar menegaskan bahwa kita tidak memiliki tempat lagi untuk melarikan diri. Jika kita mencoba mundur ke barat, kita hanya akan dijebak di rawa beracun. Jika kita lari ke timur, tebing terjal akan menyambut kita."

"Jadi pilihan kita hanya satu..." bisik Rhea dengan mata berbinar dingin.

"Bertarung di sini, atau mati terantai," sambung Rafar tanpa ragu sedikit pun. "Peta ini memperlihatkan garis akhir hidup kita. Tidak ada ruang untuk ragu, tidak ada jalur untuk mundur. Setiap jengkal tanah Lembah Sunyi ini harus dipertahankan dengan darah."

"Penyebaran pasukan musuh sangat rapat," komentar Arka dari tempat duduknya, matanya meneliti peta dengan cermat. "Mereka bergerak menggunakan formasi Ular Melingkar."

"Benar, Arka," balas Rafar menatap Arka. "Mereka ingin mengapit kita dari dua celah sempit di depan benteng utama ini."

Lihat selengkapnya