Angin dingin berembus kencang melintasi leher sempit Lembah Sunyi, membawa aroma tanah basah yang berbaur dengan uap belerang. Di celah berbatu yang menjadi satu-satunya jalan masuk menuju benteng pertahanan terakhir, sepuluh anggota kelompok berdiri mengelilingi sebuah peta kasar yang terukir di atas batu datar. Pendar abu-abu dari langit malam membingkai wajah-wajah tegang yang dipenuhi bekas luka.
"Musuh tidak akan menyerang dari samping," ujar Fathan, jemarinya menunjuk ceruk sempit di antara dua tebing terjal. "Celah ini hanya cukup untuk empat kuda berjalan berdampingan. Mereka akan memadat di sini."
"Itu keuntungan sekaligus kutukan bagi kita," sahut Zahra seraya memeriksa gulungan perban di pinggangnya. "Jika barisan depan kita jebol, kita tidak punya ruang untuk mundur."
"Makanya barisan depan tidak boleh bergeming satu jengkal pun," pikat Galin dengan nada tegas. Tangannya mengepalkan gagang perisai besi tebalnya yang menancap di tanah.
Arka berdiri di tengah lingkaran, bersandar pelan pada batang tombak kayunya. Wajahnya masih pucat akibat sisa-sisa ritual pembersihan, namun matanya memancarkan ketenangan yang tajam. "Kita tidak boleh bertarung secara acak seperti kemarin. Dewan strategi sudah memperhitungkan setiap jengkal tanah ini."
"Aku dan Galin yang akan menjadi dinding," sela Fathan, menatap Arka lurus. "Kau tidak perlu khawatir tentang ancaman dari depan, Arka. Konsentrasikan energimu untuk memandu arus."
"Bagaimana dengan pemanah gelombang pertama musuh?" tanya Risha dari samping, melonggarkan busur panah ganda berkilat emas di bahunya. "Jika mereka melepaskan hujan panah beracun dari balik ceruk, barisan perisai akan kewalahan."
"Di situlah peranmu dan Azalia," pikat Tera. Tangannya mengusap sarung pedang es miliknya yang mengkristal tipis. "Kalian akan menguasai udara sebelum busur mereka sempat terbentang."
"Kami sudah mengincar dahan-dahan cemara tua di tebing timur," sambung Azalia, jemarinya mengelus anak panah bermata perak. "Dari sana, seluruh barisan belakang musuh akan terlihat terbuka."
"Ingat," panggil Zahra memotong, menatap seluruh rekannya satu per satu. "Kamil, Rafar, dan Yafid akan menjaga celah tengah bersama Chafia sebagai penopang taktis. Jangan ada yang keluar dari formasi hanya karena memburu dendam."
"Pahami tugas masing-masing," bisik Arka, suaranya tenang namun bergema menembus desir angin malam. "Garis pertahanan ini adalah pembatas antara hidup dan matinya perjuangan kita."
"Kami mengerti!" jawab mereka serentak dalam bisikan mantap.
Dengan pembagian posisi yang telah ditetapkan secara presisi oleh dewan strategi, masing-masing ksatria mulai melangkah menuju titik tugasnya. Setiap koordinat telah diperhitungkan untuk memaksimalkan efisiensi tempur di tengah himpitan benteng alam Lembah Sunyi.
❖ ❖ ❖
Fathan dan Galin melangkah perlahan menuju celah paling sempit di mulut lembah. Di sana, dua dinding batu tebing berdiri bagaikan pilar raksasa yang mengapit jalan setapak berkerikil.
"Tanah di sini licin, Galin," panggil Fathan, menjejakkan sepatu kulitnya ke atas batu becek. "Pasang pasak perisaimu lebih dalam."
"Sudah terkunci rapat, Fathan," jawab Galin seraya menghentakkan pangkalan perisai besinya ke celah batu hingga memancarkan percikan api halus. "Dinding besi kita tidak akan bergeser, bahkan jika dihantam beruang tebing sekalipun."
Fathan berdiri tepat di sebelah kiri Galin. Ia menarik pedang beratnya dari sarung di punggung, membiarkan bilah bajanya terpantul redup oleh pendar bulan. Tubuh tinggi besarnya diposisikan miring, siap menahan tumpuan beban yang akan menerjang.
"Kau merasa gentar?" bisik Galin tanpa menoleh, matanya menatap lurus ke arah kegelapan di luar lembah.
"Gentar?" Fathan terkekeh pelan, meski napasnya berembus membentuk uap putih dingin. "Darahku justru berdesir hangat. Sudah lama kita tidak berdiri berdampingan seperti ini sejak pertempuran di gerbang selatan."
"Kali ini taruhannya lebih tinggi," ujar Galin, merapatkan bahunya ke pinggir perisai Fathan, menutup sekat kosong di antara mereka. "Di belakang kita ada Arka dan yang lainnya. Jika kita jatuh, seluruh formasi akan hancur."