Lembah Sunyi malam itu benar-benar hidup sesuai dengan namanya, sebuah hamparan dataran luas yang diapit oleh dinding-dinding tebing batu curam, terendam dalam keheningan yang teramat pekat. Namun, di balik kesunyian yang menyelimuti tempat tersebut, atmosfer di dalam lembah mendadak berubah menjadi arena pertarungan psikologis yang sarat akan tekanan mental yang luar biasa menyesakkan dada. Setiap tarikan napas terasa berat, seolah udara di sekitar dipenuhi oleh timah panas yang menekan rongga dada siapa pun yang berada di sana. Para anggota kelompok pertahanan berdiri di posisi masing-masing tanpa ada yang berani bersuara keras, membiarkan keheningan malam menjadi saksi bisu dari ketegangan yang kian memuncak.
"Pastikan posisi barisan pertahanan tidak bergeser sedikit pun," bisik Bayu kepada Kirana dengan suara tertahan, matanya terus memindai kegelapan di ujung lembah.
"Aku tahu, Bayu," jawab Kirana pelan, jemarinya menggenggam erat gagang pedang pendek sementara keringat dingin mengalir di pelipisnya. "Tekanan mental ini... rasanya bahkan lebih buruk daripada menghadapi tebasan pedang secara langsung."
Tekanan itu bukan berasal dari suara bising atau benturan senjata, melainkan dari antisipasi yang mencekam. Angin malam yang berembus pelan membawa hawa dingin menusuk tulang, memperkuat rasa cemas yang mulai merayap di benak para prajurit muda. Mereka tahu, musuh yang akan mereka hadapi malam ini bukanlah kelompok penjahat biasa, melainkan pasukan elit Golongan Hitam yang dikenal kejam dan tidak pernah menyisakan satupun lawannya hidup-hidup. Di tengah lapangan lembah yang luas itu, ketegangan seolah dapat dipotong dengan sebilah pisau, membuat setiap detik terasa berjalan begitu lambat dan menyiksa batin.
Tera, yang berdiri di barisan depan dengan kerudung putihnya yang melambai tertiup angin, tetap mempertahankan postur tubuhnya yang kaku dan penuh wibawa. Meskipun ia baru saja pulih dari cengkeraman racun purba beberapa waktu lalu, sorot matanya tidak menunjukkan secercah pun rasa takut. Ia melirik sekilas ke arah para sahabat di belakangnya, lalu kembali memusatkan perhatiannya ke arah mulut lembah yang gelap gulita, tempat di mana ancaman terbesar dalam hidup mereka akan segera menampakkan wujudnya.
❖ ❖ ❖
Angin malam yang semula berembus pelan tiba-tiba berubah kencang, menderu liar melewati celah-celah tebing batu dan menciptakan suara siulan bernada tinggi yang memekakkan telinga. Bersamaan dengan perubahan arah angin tersebut, aroma aneh mulai tercium di udara—bau amis darah yang pekat bercampur dengan bau kemenyan busuk dan aura kegelapan yang sangat pekat.
"Kalian mencium bau itu?" tanya seorang anggota muda di barisan tengah dengan suara bergetar ketakutan, hidungnya mengernyit menahan rasa mual.
"Tetap tenang dan fokus! Jangan biarkan indra kalian dikaburkan oleh trik mental mereka!" seru Tera lantang, suaranya memotong desau angin malam dengan ketegasan yang luar biasa.
Dari kejauhan, di balik kabut tipis yang merayap turun menutupi permukaan tanah lembah, pendar cahaya kehitaman mulai tampak berkilauan. Itu adalah obor-obor khusus milik pasukan Golongan Hitam, yang apinya memancarkan warna ungu gelap alih-alih kuning kemerahan seperti biasa. Aura kegelapan yang dipancarkan oleh pasukan tersebut begitu kuat hingga membuat rerumputan di sepanjang jalur yang mereka lewati mendadak layu dan menghitam seketika.
"Jumlah mereka... sangat banyak," gumam Kirana dengan mata membelalak, mencoba menghitung bayangan-bayangan gelap yang mulai bergerak mendekat dari kejauhan.
"Mereka datang membawa seluruh kekuatan utama untuk memastikan tidak ada seorang pun dari kita yang keluar hidup-hidup dari lembah ini," sahut Bayu dingin, menyiapkan kuda-kuda bertarungnya dan mengalirkan chi ke seluruh tubuhnya untuk melawan gelombang tekanan mental yang dikirimkan oleh musuh.