Malam yang tadinya tenang di Lembah Sunyi mendadak berubah menjadi neraka berkobar ketika derap ribuan kuda dan gemerincing zirah baja memecah keheningan. Pasukan Golongan Hitam akhirnya tiba, meluber dan tumpah ruah memenuhi seluruh penjuru lembah, mengepung setiap jengkal tanah tempat kelompok kecil Arka bertahan. Di bawah naungan langit malam yang tadinya gelap gulita, warna cakrawala berubah menjadi merah menyala akibat ribuan obor perang yang diangkat tinggi-tinggi oleh barisan musuh.
Panas dari lautan obor itu seolah membakar udara, menciptakan suasana menyesakkan yang menguji mental siapa pun yang menyaksikannya. Di tengah barisan pertahanan depan, Tera berdiri tegak dengan pedang es terhunus, sementara Arka yang baru saja pulih berdiri di sisinya, meski wajahnya masih menyisakan pucat akibat pengorbanan besar sebelumnya.
"Jumlah mereka terlalu banyak," bisik Dimas dengan napas berat, matanya menatap takjub pada lautan manusia berbaju zirah hitam yang terus berdatangan dari balik bukit.
"Berapa pun jumlah mereka, kita tidak punya pilihan selain bertarung sampai titik darah penghabisan," balas Tera dingin, namun nadanya menyiratkan tekad baja yang tidak akan pernah goyah.
Yafid merapatkan tali busurnya, menyiapkan beberapa anak panah sekaligus di tangannya. "Kita sudah memilih jalan ini sejak awal. Mari kita tunjukkan kepada mereka bahwa kita bukan mangsa yang mudah ditaklukkan."
Suara gemuruh dari ribuan prajurit Golongan Hitam menggema memenuhi lembah, menciptakan getaran yang merambat hingga ke telapak kaki mereka. Langit merah di atas sana menjadi saksi bisu atas ketidakseimbangan kekuatan yang luar biasa antara kedua belah pihak, siap menelan siapa saja yang berani berdiri menghalangi ambisi kejam faksi hitam tersebut.
❖ ❖ ❖
Di barisan terdepan pasukan musuh, sang panglima tertinggi Golongan Hitam maju menunggangi kuda perang hitam berukuran besar. Ia mengenakan jubah kebesaran dengan lambang tengkorak perak di dadanya, menebarkan aura intimidasi yang kuat ke seluruh penjuru medan laga.
Melihat barisan kelompok Arka yang hanya terdiri dari segelintir orang di tengah lapangan terbuka, panglima itu menarik tali kekang kudanya dan tertawa meremehkan. Suara tawanya melengking tinggi, memecah kebisingan sorak-sorai pasukannya sendiri.
"Lihatlah ke depan sana!" seru panglima itu dengan suara menggelegar, menunjuk ke arah kelompok Arka dengan ujung pedangnya. "Sekelompok semut kecil berani menghalangi jalan bala tentara Golongan Hitam! Sungguh sebuah lelucon yang menggelikan!"
Para prajurit di belakangnya ikut tertawa sinis, mengejek kerapuhan dan minimnya jumlah anggota kelompok yang berdiri di hadapan mereka. Bagi mereka, memusnahkan kelompok Arka hanyalah formalitas kecil sebelum menguasai seluruh wilayah persilatan selatan.
Arka melangkah maju selangkah, menatap tajam ke arah sang panglima tanpa menunjukkan rasa gentar sedikit pun. "Kau boleh tertawa sekarang, tapi sebentar lagi kau akan tahu bahwa semut pun bisa merobohkan gajah jika mereka bersatu."
Panglima musuh menghentikan tawanya, wajahnya di balik helm besi berubah menjadi geram mendengar jawaban penuh percaya diri dari pemuda itu. "Bocah kurang ajar! Kau pikir setelah pertarungan panjang kemarin, kalian masih memiliki tenaga untuk melawan ribuan pasukanku?"
"Coba saja buktikan sendiri," tantang Tera tajam, mengangkat pedangnya hingga memantulkan cahaya merah dari lautan obor perang di sekeliling lembah.