Matahari pagi belum sepenuhnya menampakkan wujudnya di balik punggung Pegunungan Naga, namun Lembah Sunyi sudah bergetar hebat. Udara dingin yang biasanya menyelimuti kawasan pertapaan kini mendadak panas, dipenuhi oleh bau mesiu, keringat, dan gelombang aura pembunuh yang pekat. Di sekeliling batas lembah, bayangan-bayangan hitam bergerak cepat, merayap naik menembus kabut tipis dengan teriakan-teriakan perang yang menggelegar memecah kesunyian fajar.
"Mereka datang! Bersiaplah di pos masing-masing!" seru Arka dengan suara lantang, berdiri tegak di atas batu karang tinggi sambil menghunus pedangnya yang berkilau dingin.
Tanpa memberikan kesempatan bagi para pendekar Lembah Sunyi untuk bernapas, gelombang pertama pasukan bayaran musuh menubruk lini pertahanan kelompok dengan hantaman tenaga dalam yang mengguncang tanah lembah. Benturan energi hitam yang masif itu menciptakan gelombang kejut dahsyat yang meretakkan permukaan tanah di garis depan.
"Tahan posisi kalian!" teriak Fathan sambil membenarkan kuda-kudanya, menjejalkan seluruh tenaga dalamnya ke tanah untuk menahan guncangan hebat yang hampir merobohkan keseimbangannya.
Di sampingnya, Galin menggeram tertahan saat telapak tangannya beradu dengan gelombang angin musuh yang pertama kali menghantam. "Kekuatan mereka jauh lebih besar dari perkiraan kita sebelumnya!"
"Jangan biarkan mereka menembus barisan pertama!" balas Zahra memperingatkan, langsung mengibaskan selendang bajanya untuk memecah hantaman angin musuh yang menyasar sisi kiri pertahanan mereka.
❖ ❖ ❖
Tabrakan kekuatan frontal antara kedua kubu tersebut menciptakan ledakan energi yang luar biasa dahsyat di udara. Debu tebal, serpihan batu karang, dan tanah liat beterbangan ke segala arah, menyelimuti medan laga dalam kabut abu-abu yang pekat dan mengaburkan pandangan di garis depan pertempuran.
"Aku tidak bisa melihat apa-apa! Di mana posisi musuh?" seru seorang pendekar muda dari barisan tengah, batuk-batuk kecil akibat menghirup debu tebal yang menyesakkan dada.
"Jangan gunakan mata fisikmu, gunakan indra batinmu untuk membaca arah pergerakan hawa pembunuh mereka!" instruksi Arka tegas, matanya sendiri menyipit tajam menembus tirai debu di hadapannya.
Di balik kabut debu yang menyelimuti medan, desingan senjata tajam dan benturan besi mulai terdengar bersahutan. Prajurit bayaran musuh yang mengenakan topeng besi bermuka singa menyerang membabi buta, memanfaatkan kekacauan visual tersebut untuk menerobos masuk ke jantung pertahanan kelompok Arka.
"Awas di sebelah kananmu, Galin!" teriak Fathan sambil mengayunkan tombaknya dengan keras, menepis tebasan pedang musuh yang hampir merobek bahu sahabatnya itu.