Desir angin lembah bergemuruh kencang, membawa aroma darah segar dan debu kering yang mengepul dari tanah lapang di perbatasan Hutan Kabut Hitam. Di tengah kekacauan medan pertempuran yang mencekam, Fathan dan Galin berdiri kokoh bagai karang karam di garis terdepan, menolak mundur meski dikeroyok oleh puluhan pendekar elite berpedang hitam dari Golongan Hitam. Jubah mereka robek di berbagai sisi, dan peluh bercampur debu mengalir deras di wajah mereka yang tegang.
"Jumlah mereka tidak ada habisnya, Galin!" seru Fathan dengan napas memburu, memutar pedang panjangnya untuk menepis tebasan maut yang mengarah ke lehernya. "Jika kita kehilangan fokus sedetik saja, barisan pertahanan di belakang kita akan runtuh sepenuhnya!"
Galin mengibarkan tongkat besi hitam di tangan kanannya, menciptakan desau angin tajam yang memukul mundur tiga pendekar musuh sekaligus. "Biarkan mereka datang sebanyak yang mereka mau, Fathan! Selama kita masih bisa berdiri di atas tanah ini, tidak ada satu pun dari mereka yang diizinkan menyentuh Tera dan Arka!"
Puluhan pendekar elite berpedang hitam itu menyeringai dingin di balik topeng besi mereka. Mereka adalah pasukan khusus pembunuh bayaran yang terkenal tidak pernah gagal dalam menjalankan tugas eksekusi. Gerakan mereka terkoordinasi dengan sangat rapi, mengepung Fathan dan Galin dalam lingkaran sempit yang terus mendesak maju tanpa kenal ampun.
"Kalian hanya dua orang pendekar bodoh yang mencoba menahan ombak besar dengan tangan kosong!" ejek pemimpin pasukan elite tersebut, mengacungkan pedang hitamnya ke depan. "Serang mereka bersamaan! Cincang tubuh mereka menjadi berkeping-keping!"
Seketika itu juga, gelombang serangan kedua meluncur dengan kecepatan luar biasa. Bilah-bilah pedang beracun membelah udara malam, mengincar titik-titik vital di tubuh Fathan dan Galin. Namun, tidak ada secercah pun rasa takut di mata kedua sahabat setia itu. Mereka merapatkan posisi, saling melindungi punggung satu sama lain, dan menyalurkan sisa tenaga dalam mereka ke ujung senjata masing-masing untuk menyambut hantaman maut musuh.
❖ ❖ ❖
Benturan senjata yang nyaring menggema bertubi-tubi, menciptakan percikan api di tengah temaram cahaya malam. Setiap kali hantaman tenaga dalam musuh menghantam pertahanan mereka, tubuh Fathan dan Galin bergetar hebat hingga ke tulang sumsum. Luka-luka lama mereka yang belum sembuh sempurna akibat pertempuran sebelumnya di Benteng Merah mulai kembali menganga, membasahi kain jubah dengan darah segar yang hangat.
"Argh!" rintih Fathan tertahan saat sebuah hantaman telapak tangan bertenaga dalam milik musuh mendarat telak di dada sampingnya, memaksa darah segar keluar dari sudut bibirnya.
Galin melirik sekilas ke arah Fathan dengan tatapan penuh kekhawatiran. "Fathan! Kau terluka parah di bagian rusuk!"
"Fokus pada pertahananmu sendiri, Galin! Aku masih bisa bertahan!" balas Fathan cepat, memaksakan diri untuk berdiri tegak meski rasa sakit yang luar biasa menjalar di sekujur dadanya.
Luka-luka lama yang belum menutup sempurna itu kini robek kembali oleh tekanan dahsyat dari para pendekar elite. Setiap kali mereka mengayunkan senjata, rasa perih yang teramat sangat membakar otot-otot lengan mereka. Namun, rasa sakit fisik itu seolah diabaikan begitu saja oleh tekad batin yang jauh lebih kuat untuk melindungi kelompok yang berada di belakang mereka.
Pemimpin pasukan elite musuh melihat celah dari keletihan fisik yang mulai melanda musuh mereka. "Mereka mulai kehabisan tenaga! Perketat serangan! Jangan beri mereka kesempatan untuk mengatur napas!"
Puluhan pendekar berpedang hitam semakin merapatkan barisan, melancarkan rentetan tusukan dan tebasan bertubi-tubi yang memaksa Fathan dan Galin harus mengerahkan seluruh sisa konsentrasi dan energi yang mereka miliki hanya untuk sekadar tetap bernapas di tengah badai serangan tersebut.