KEMELUT TERATAI KEMBAR

Amrullah Ibrahim
Chapter #88

Maut dari Ketinggian

Desau angin pagi di Lembah Kematian berhembus kencang, membawa aroma daun basah bercampur debu tanah yang tandus. Di bawah naungan langit mendung, barisan pasukan musuh bergerak merayap maju seperti gelombang hitam legam yang siap melibas apa saja di jalur mereka. Suara derap ribuan kaki kuda dan dentingan zirah besi menggema memecah keheningan lereng bukit, menciptakan tekanan psikologis yang luar biasa bagi siapa pun yang mendengarnya. Namun, di atas rerimbunan dahan pohon-pohon purba di sisi lembah, dua sosok bayangan bergerak tanpa suara, memantau setiap pergerakan musuh dengan mata tajam bagaikan burung rajawali yang mengintai mangsanya.

Dari atas rerimbunan dahan pohon-pohon purba di sisi lembah, Azalia dan Risha melancarkan hujan serangan jarak jauh yang mematikan. Posisi mereka yang tersembunyi rapat di balik dedaunan lebat membuat keberadaan mereka mustahil dideteksi dari bawah.

"Perhatikan komandan pasukan di barisan tengah, Risha," bisik Azalia pelan di balik kerudung hitamnya, jemarinya dengan terampil meraba kantong kulit berisi deretan jarum perak beracun di sisi pinggangnya. "Mereka mulai mempercepat barisan. Kita harus mengacaukan formasi mereka sekarang sebelum mereka mencapai jembatan batu."

Risha mengangguk mantap, menarik tiga bilah belati lempar tipis berkilau ke dalam genggaman tangan kanannya. "Serahkan padaku. Target komandan sektor barat adalah milikku."

Tanpa membuang waktu lagi, Azalia mengangkat tangan kanannya ke udara, membidik sudut sasaran dengan perhitungan angin dan jarak yang sangat matang. Gerakan mereka begitu padu, terlatih dari berbagai medan pertempuran sengit yang telah mereka lalui bersama Aliansi Putih. Di kejauhan, pasukan musuh sama sekali tidak menyadari bahwa maut sedang mengintai mereka dari atas ketinggian.

"Tiga, dua, satu... lepaskan!" gumam Azalia lirih.

Dalam sekejap, desingan angin kecil menyayat udara pagi. Ratusan jarum perak beracun meluncur deras bagaikan hujan meteor mini yang menembus sela-sela dahan pohon, mengarah langsung ke jantung pertahanan musuh di bawah sana tanpa ampun.

❖ ❖ ❖

Jarum beracun dan belati lempar berputar cepat di udara, menghujani barisan belakang dan tengah pasukan musuh dengan tingkat akurasi yang sempurna. Serangan mendadak dari arah yang sama sekali tidak terduga itu menciptakan kebingungan instan di tengah barisan prajurit Golongan Hitam.

Ugh!

Beberapa prajurit di barisan tengah langsung ambruk seketika ke tanah tanpa sempat mengeluarkan suara, setelah leher dan titik syaraf utama mereka tertusuk jarum perak beracun yang melesat dengan kecepatan tinggi.

"Serangan dari atas! Lindungi formasi!" teriak salah seorang perwira musuh panik, mengangkat perisai kayunya tinggi-tinggi ke udara sambil berputar kebingungan mencari arah datangnya proyektil.

Namun, peringatan itu terlambat. Risha kembali melepaskan rangkaian belati lemparnya dengan teknik putaran tangan yang mematikan. Belati-belati itu melesat melingkar di udara, menembus celah zirah logam di bagian punggung para prajurit pembawa panah musuh.

"Akurasi mereka luar biasa," puji Risha singkat dengan senyuman tipis di balik kerudungnya, melihat tiga target beruntunnya jatuh tersungkur di tanah berdebu.

"Jangan cepat puas, Risha," balas Azalia sambil kembali mengeluarkan selusin jarum perak dari kantong khususnya. "Pasukan pemanah mereka mulai menyadari posisi kita dan bersiap membalas."

Di bawah sana, suasana barisan musuh benar-benar kacau balau. Kuda-kuda tunggangan prajurit meringkik kencang karena ketakutan mencium bau darah dan racun yang menyebar di udara. Mayat-mayat bergelimpangan di sepanjang jalan setapak lembah, menghambat laju gerakan pasukan utama yang hendak mengejar kelompok Arka di depan.

"Temukan mereka! Panah dahan-dahan pohon di sebelah timur!" bentak komandan pasukan musuh dengan suara melengking penuh kemarahan, menunjuk ke arah rimbunan pohon purba tempat Azalia dan Risha bersembunyi.

❖ ❖ ❖

Lihat selengkapnya