Suasana di sisi barat lembah perbatasan tampak begitu sunyi, diselimuti oleh kabut tebal yang merayap perlahan di antara dinding-dinding tebing batu karang yang menjulang tinggi. Di balik bebatuan besar yang membentuk celah-celah menyerupai labirin alami, Kamil, Rafar, and Yafid bersiap siaga dengan napas tertahan. Mereka bertiga berdiri mengawasi jalur setapak berpasir yang menjadi satu-satunya akses utama menuju sektor barat tersebut. Udara di tempat itu terasa begitu lembap dan dingin, berpadu dengan ketegangan mental yang membuncah di dada masing-masing penasihat taktik kelompok Arka itu.
"Apakah mereka benar-benar akan terpancing melewati jalur labirin batu sempit ini, Rafar?" bisik Yafid pelan, tangannya sibuk memeriksa lilitan tali pengungkit jebakan yang tersembunyi di balik semak-semak.
Rafar melirik sekilas ke arah jalur di bawah, lalu tersenyum tipis penuh keyakinan. "Kau meremehkan sifat arogan para komandan lapangan Golongan Hitam, Yafid. Mereka mengira kemenangan sudah berada di tangan setelah mendengar kabar melemahnya perisai kitab kita. Mereka tidak akan sudi membuang waktu untuk berputar mencari jalur lain."
"Benar kata Rafar," timpal Kamil dengan nada suara tegas, matanya awas mengamati bayangan obor yang mulai terlihat bergerak mendekat dari kejauhan. "Sifat sombong adalah kelemahan terbesar seorang pemimpin militer yang haus akan pujian dari pimpinannya."
Tidak lama kemudian, suara derap sepatu bot dan suara benturan baju zirah mulai terdengar memecah kesunyian lembah. Kamil, Rafar, and Yafid memancing komandan lapangan musuh beserta pasukan elitnya masuk ke dalam sektor labirin batu sempit di sisi barat lembah dengan cara sengaja menampakkan diri seolah-olah sedang melarikan diri dalam kepanikan.
"Lihat! Mereka lari ke arah celah batu barat! Kejar dan jangan biarkan satupun dari mereka lolos!" teriak salah seorang pengintai musuh dari barisan depan.
Komandan lapangan pasukan musuh, seorang perwira tinggi berbadan tegap dengan belati emas terselip di pinggangnya, mendengus keras dari balik helm perangnya. "Kejar mereka sampai dapat! Hari ini kepala para penasihat Arka akan menjadi piala kemenangan kita!"
Pasukan elit Golongan Hitam langsung mempercepat laju larian mereka, menerobos masuk ke dalam lorong batu yang semakin lama semakin menyempit, meninggalkan pasukan infanteri utama yang tertinggal jauh di belakang akibat kecepatan pengejaran yang tidak teratur.
❖ ❖ ❖
Komandan musuh yang sombong terpancing emosinya dan mengejar mereka tanpa memperhitungkan kondisi medan di dalam lorong batu. Ia terlalu bernafsu untuk segera menangkap ketiga penasihat Arka itu tanpa menyadari bahwa mereka sedang menuntun langkahnya menuju mulut jurang kematian.
"Jangan biarkan mereka lepas dari pandangan! Terus dorong ke depan!" bentak sang komandan kepada pasukannya, suaranya menggema keras memantul di dinding-dinding batu sempit.
Rafar, yang berlari paling belakang sambil sesekali menoleh ke belakang, menyeringai melihat musuh yang semakin masuk ke dalam perangkap. "Mereka benar-benar menelan umpan mentah-mentah, Kamil. Kordinasi pasukan mereka benar-benar hancur karena emosi."
"Bagus, pertahankan kecepatan lari kita agar mereka tidak curiga," balas Kamil tanpa mengurangi kewaspadaannya. "Yafid, apakah persiapan di titik tengah sudah beres?"
"Semua sudah siap sepuluh persen di ambang batas!" jawab Yafid yang berlari mendahului mereka menuju titik kendali utama di balik dinding batu tersembunyi.
Lorong batu semakin menyempit, membuat barisan pasukan elit musuh terpaksa merapatkan barisan mereka menjadi dua saf saja. Dinding tebing di sisi kiri dan kanan menjulang tinggi, menutupi sinar matahari dan menciptakan lorong gelap yang dipenuhi oleh bayangan-bayangan menyeramkan. Sang komandan musuh sama sekali tidak merasakan adanya kejanggalan; di dalam pikirannya hanya ada ambisi besar untuk mempersembahkan kepala para pemimpin kelompok Arka kepada pimpinan tertinggi mereka di markas pusat.
"Kejar! Mereka sudah mulai melambat di tikungan depan!" teriak sang komandan penuh semangat, memacu kudanya—ralat, memacu langkah kakinya sendiri karena kuda perang mereka terpaksa ditinggal di luar akibat jalur yang terlalu sempit.
Langkah kaki pasukan elit musuh bergemuruh memenuhi rongga lorong, semakin masuk ke dalam perangkap maut yang dirancang khusus oleh Yafid dan kawan-kawan.