Suasana di sekitar air terjun berubah drastis menjadi lautan kekacauan yang memekakkan telinga. Dentuman senjata, suara benturan baja yang beradu, dan teriakan amarah dari dua kubu yang bertikai memenuhi udara malam. Di balik formasi pertahanan yang mulai rapuh, sebuah ceruk batu besar dimanfaatkan sebagai tempat perlindungan sementara. Di balik batu besar perlindungan dekat gua, Zahra dan Chafia bersiaga penuh di pos medis darurat untuk merawat para pejuang yang terluka parah.
Cahaya obor yang menempel di dinding batu memancarkan nyala yang bergoyang-goyang hebat tertiup angin malam dan kepulan asap pertempuran. Meja kayu kasar yang disulap menjadi meja operasi darurat dipenuhi oleh botol-botol ramuan herbal, gulungan kain perban, dan berbagai peralatan bedah sederhana.
Zahra mengepalkan tangannya sejenak, menarik napas dalam-dalam untuk menenangkan debar jantungnya sebelum menatap Chafia yang berdiri di sampingnya dengan belati terhunus.
"Chafia, pastikan perisai energimu tetap stabil di sekitar area ini," instruksi Zahra dengan suara tegas namun sarat ketegangan. "Gelombang serangan musuh dari garis depan semakin mendekat kemari. Kita tidak punya waktu banyak jika korban mulai berjatuhan lebih banyak lagi."
Chafia mengangguk mantap, memusatkan konsentrasinya pada aliran energi di telapak tangannya. "Jangan khawatir tentang pertahanan luar, Zahra. Fokus saja pada obatmu. Aku tidak akan membiarkan satu debu pun melukai area ini."
"Bagus. Karena prajurit pertama yang terluka parah sudah dibawa mundur ke sini," ucap Zahra saat melihat bayangan beberapa pejuang mendekat dari arah medan laga dengan langkah gontai.
❖ ❖ ❖
Suara derap kaki yang tergesa-gesa memecah kesunyian di sekitar ceruk perlindungan batu besar tersebut. Korban berjatuhan silih berganti dibawa mundur dari garis depan, membutuhkan penanganan cepat di tengah desingan suara pertempuran.
Dua orang pejuang perlawanan memapah seorang rekan mereka yang mengalami luka bakar parah di bagian lengan dan dada akibat hantaman sihir api musuh. Mereka merebahkan tubuh korban tersebut di atas meja darurat dengan wajah pucat pasi menahan sakit.
"Cepat selamatkan dia, Zahra! Luka bakarnya menyebar sangat cepat!" seru salah seorang pejuang dengan napas terengah-engah, pakaiannya compang-camping dan berlumuran noda darah segar.
Zahra langsung bergerak cekatan tanpa membuang waktu sedetik pun. Ia merobek sisa kain baju korban, lalu meneteskan cairan penyejuk herbal langsung ke atas kulit yang melepuh hebat.
"Tahan rasa sakitnya, kawan. Aku sedang membersihkan jaringan yang rusak," kata Zahra menenangkan, sementara dahinya dipenuhi oleh butiran keringat dingin yang mengucur deras.
"Di sebelah sini butuh bantuan!" teriak seorang pejuang lain yang baru saja menyeret rekannya dengan luka sayatan dalam di perut.
Chafia melirik sejenak ke arah korban kedua, lalu mengalihkan pandangannya kembali ke luar lingkaran pertahanan pos medis. "Zahra sedang menangani luka bakar berat. Bawa korban itu ke sisi kiri meja, aku akan membantunya menahan pendarahan!" perintah Chafia tegas.
Situasi di pos medis itu benar-benar berada di ambang batas kewajaran. Di tengah suara ledakan meriam dan dentingan pedang yang semakin mendekat dari bibir lembah, kedua wanita itu harus berpacu dengan maut demi menyelamatkan nyawa rekan-rekan mereka yang berguguran satu per satu.