Desir angin malam yang dipenuhi debu dan bau anyir darah mendadak berputar kencang, menghantam dinding-dinding batu di luar gua persembunyian. Di kancah pertempuran luar, situasi berubah drastis dalam hitungan detik. Pasukan elit Golongan Hitam yang tadinya menyerang dengan beringas kini mulai kocar-kacir, terdesak mundur oleh perlawanan gigih dari kelompok Arka dan para sahabatnya. Di barisan terdepan, Fathan dan Galin baru saja berhasil melumpuhkan komandan lapangan musuh bertopi baja dengan kombinasi tebasan pedang yang telak, membuat sang komandan terjatuh berlutut dan kehilangan kesadarannya di atas tanah berlumpur.
Melihat pasukannya porak-poranda dan para komandan andalannya satu per satu bertumbangan di tangan kelompok Arka, pimpinan tertinggi Golongan Hitam yang sejak tadi mengamati dari atas gundukan batu tinggi tidak bisa lagi menahan amarahnya. Dengan tatapan mata penuh murka yang menyala-nyala di balik jubah hitam legamnya, sang penguasa kegelapan akhirnya memutuskan untuk turun tangan secara langsung ke medan laga, siap memulihkan kehormatan kelompoknya dengan darah musuh-musuhnya.
"Kalian benar-benar sekumpulan semut yang tidak tahu diuntung," suara berat yang menggelegar dingin memecah hiruk-pikuk pertempuran, membuat seluruh orang di sekitar medan laga menoleh serempak ke arah sumber suara.
Sosok pimpinan tertinggi itu melompat turun dari atas batu dengan gerakan ringan namun mematikan, mendarat tepat di tengah-tengah lapangan terbuka. Jubah panjangnya berkibar tertiup angin malam, memancarkan atmosfer kematian yang langsung membuat seluruh pasukan musuh di sekitarnya berlutut ketakutan, sementara kubu kelompok Arka mendadak menegang kaku merasakan ancaman besar yang belum pernah mereka saksikan sebelumnya.
"Akhirnya dalang utama dari semua teror ini muncul juga," gumam Fathan tajam, mempererat cengkeraman pada hulu pedangnya meski napasnya terengah-engah.
"Hati-hati, energi di sekitarnya berbeda dari semua musuh yang pernah kita hadapi," bisik Galin memperingatkan, melangkah mundur perlahan untuk merapatkan kembali barisan pertahanan bersama rekan-rekan yang lain.
❖ ❖ ❖
Kehadiran sosok pimpinan tertinggi Golongan Hitam itu tidak sekadar menandai kemunculan seorang petarung kuat, melainkan bencana alam yang berjalan di atas bumi. Begitu kedua kakinya menapak sempurna di atas tanah lembah, aura hitam pekat yang mengerikan langsung meledak keluar dari tubuhnya, menyebar ke segala arah bagaikan gelombang tsunami spiritual yang tidak kasat mata.
Dampak dari pelepasan aura tersebut terjadi seketika dan sangat mengerikan. Rerumputan hijau di sekitar tempat ia berdiri layu dan berubah menjadi hitam menghitam dalam hitungan detik. Pepohonan besar di pinggir lembah mendadak merunduk lemas, ranting-rantingnya patah dan daun-daunnya berguguran berganti warna menjadi abu kering, seolah seluruh kehidupan di area tersebut disedot habis oleh keberadaan sang penguasa kegelapan.
"Aura apa ini? Rasanya... rasanya oksigen di udara mendadak hilang!" racaunya salah seorang pengungsi dari kejauhan, jatuh berlutut sambil memegang dadanya yang sesak.
Zahra dan Chafia yang berada di dekat barisan belakang langsung merapatkan diri, menggunakan sisa tenaga mereka untuk menyalurkan energi pelindung kepada anak-anak dan warga sipil yang ketakutan setengah mati. "Bertahanlah, jangan hirup udara di sekitar tanah itu, itu adalah racun spiritual murni!" seru Zahra dengan suara bergetar hebat.
Di tengah medan pertempuran, Fathan dan Galin bahkan harus menancapkan ujung pedang mereka ke tanah untuk menahan tubuh agar tidak terseret oleh dorongan angin tekanan qi yang begitu liar dan menekan. Kengerian yang dipancarkan oleh musuh utama mereka ini melampaui batas imajinasi terliar siapapun, membuktikan bahwa jurang perbedaan kekuatan di antara mereka bagaikan langit dan bumi.