Langit malam di atas Lembah Tengkorak bergoyang seolah hendak runtuh. Udara terasa sangat pekat, sarat akan bau belerang, darah kering, dan hawa membunuh yang begitu kental. Di pusat gelanggang batu yang dikelilingi jurang terjal, dua kelompok kekuatan berdiri berseberangan dalam ketegangan yang memuncak.
Penguasa Golongan Hitam, sosok bertubuh tinggi besar yang dibalut jubah hitam kelam berpendar keunguan, melangkah maju dua tapak. Wajahnya tertutup topeng tengkorak besi yang memancarkan pendar merah dari celah matanya. Tangannya yang dipenuhi cakar logam hitam memegang sebatan tongkat bertuah berkepala ular.
"Kalian berdua telah melangkah terlalu jauh, Arka, Tera!" seru Penguasa Golongan Hitam, suaranya berat bergema seperti dentuman batu bergulir dari puncak gunung. "Kelahiran Jurus Teratai Kembar tidak akan sanggup mengubah takdir kematian kalian malam ini!"
Arka melangkah maju satu tapak, memosisikan dirinya sejajar dengan Tera. Meskipun energi spiritualnya belum pulih sempurna dari ritual pembersihan sebelumnya, matanya memancarkan kilau emas yang tak tergoyahkan. Pedang pusakanya terhunus tegak lurus, memancarkan aura hangat Angin Sejuk.
"Kebajikan tidak pernah tunduk pada kegelapan," balas Arka tegas, suaranya tenang menembus deru angin malam. "Jurus Teratai Kembar lahir bukan untuk memamerkan kesaktian, melainkan untuk menegakkan keadilan!"
Tera berdiri di samping kanan Arka, pedang es Abadi di tangannya telah mengkristal rapat, mengeluarkan uap dingin yang membekukan tanah di bawah pijakannya. "Jangan banyak bicara, Iblis Hitam! Kejahatan Golongan Hitam berakhir di lembah ini!"
"Bocah-bocah tak tahu diri!" raung sang Penguasa Kegelapan.
Dengan satu hentakan kaki yang menghancurkan tanah batu di bawahnya, pimpinan Golongan Hitam itu melesat cepat seperti kilat hitam yang membelah udara malam. Tubuhnya melayang di udara, menyelubungi dirinya dengan gumpalan aura hitam membara yang pekat—Ilmu Hitam Pemusnah.
"Rasakan pembalasanku!" teriaknya seraya menghujankan pukulan dua telapak tangan bercakar hitam itu langsung ke arah dada Arka dan Tera.
"Tera, bersiap!" jerit Arka seraya menyilangkan pedangnya.
"Aku bersamamu, Arka!" balas Tera mantap.
Dua gumpalan tenaga dalam raksasa berwarna hitam keunguan meluncur deras, memotong angin malam dengan suara mendesis nyaring yang sanggup memecahkan gendang telinga.
❖ ❖ ❖
BOOOOOOMMM!
Benturan tenaga dalam yang dahsyat dan tak terbayangkan terjadi tepat di udara tengah gelanggang. Hantaman antara Ilmu Hitam Pemusnah melawan benteng pertahanan Arka dan Tera memicu ledakan energi spiritual yang amat dahsyat.
Gelombang kejut melingkar terpancar kencang ke segala arah, menyapu bersih uap dingin dan debu di sekitar lembah. Tekanan udara yang tercipta begitu tebal hingga merubuhkan batu-batu besar di tebing-tebing sekitar.
"Aaghh! Tahan posisi!" teriak Fathan di garis belakang, bersama Galin mengangkat perisai besinya untuk menahan bongkahan batu yang bertjatuhan dari atas langit-langit lembah.
"Luar biasa... kekuatan pukulan Iblis Hitam itu sungguh mengerikan!" seru Zahra seraya melindungi matanya dari debu batu yang beterbangan.
Di pusat ledakan, percikan api hitam dan pendar cahaya keemasan bercampur es saling meremas keras. Suara raungan tenaga dalam berkumandang memekakkan telinga.
"Kalian tidak akan sanggup menahan kekuatanku!" bentak Penguasa Golongan Hitam dari udara, menambah tekanan tenaga dalamnya hingga pendar hitam itu makin membesar.
"Jangan menyerah, Tera!" pekik Arka, mempererat pegangan tangannya pada gagang pedang seraya menggembleng sisa-sisa hawa murninya.
"Ugh... tekanannya sangat berat, Arka!" rintih Tera, giginya berkertakan rapat menahan dorongan angin pukulan musuh yang menusuk hingga ke saraf internalnya.