KEMELUT TERATAI KEMBAR

Amrullah Ibrahim
Chapter #94

Batas Akhir Raga yang Rapuh

Angin malam Lembah Kematian berembus dingin, membawa bau anyir darah yang begitu pekat. Langit di atas tertutup awan kelam, seolah turut berduka menyaksikan pertempuran hidup dan mati yang nyaris mencapai akhirnya.

Di atas tanah yang hangus dan penuh kawah sisa ledakan tenaga dalam, Arka dan Tera terhuyung bangkit dengan tubuh penuh luka. Pakaian mereka robek di berbagai sisi, memperlihatkan luka-luka menganga yang mengeluarkan darah segar.

Arka menggertakkan giginya rapat-rapat. Setiap tarikan napas terasa seperti menghirup serpihan kaca tajam yang merobek rongga dadanya.

"Arka, tahan dirimu! Keadaanmu benar-benar sudah di ambang batas," seru Tera dengan suara bergetar, setengah berteriak di antara deru angin. Gadis itu menyeka darah di dahinya menggunakan punggung tangan yang gemetar hebat.

Arka menggeleng pelan, wajahnya pucat pasi tanpa sisa warna darah. "Aku... aku masih bisa berdiri, Tera. Kita tidak boleh menyerah di sini. Jika kita tumbang, maka seluruh perguruan akan musnah di tangan mereka."

"Tapi tubuhmu..." Tera mencengkeram lengan Arka, merasakan betapa panas dan rapuhnya otot-otot di balik jubah lelaki itu. Tekanan berat yang luar biasa terus menghantam meridian tubuh Arka akibat kondisi fisik yang belum pulih sepenuhnya dari pertarungan sebelumnya. "Inti tenagamu sudah terkuras habis. Memaksakan diri sama saja dengan bunuh diri!"

"Kalau pun aku harus mati, aku akan mati dengan berdiri tegak melawan kelaliman mereka," jawab Arka dengan suara parau namun penuh keyakinan mutlak. Tatapan matanya tetap tajam, menatap lurus ke depan, meskipun lututnya bergetar hebat menahan berat badannya sendiri.

Tera menatap sahabatnya itu dengan mata berkaca-kaca. Ada rasa bangga, namun juga ketakutan yang teramat sangat di dalam dadanya. "Arka... kita sudah berjuang sejauh ini. Apakah takdir kita memang harus berakhir di lembah terkutuk ini?"

"Jangan bicara soal akhir sebelum napas terakhir kita terhenti," balas Arka sambil menegakkan punggungnya yang terasa remuk. "Ingat janji kita pada para tetua? Kita bersumpah untuk melindungi Kitab Pusaka Langit hingga titik darah penghabisan."

Tera menarik napas panjang, mencoba menenangkan debar jantungnya yang menggila. "Baiklah. Jika kau memilih jalan ini, aku tidak akan pernah meninggalkanmu sendirian. Kita hidup bersama, dan jika harus gugur, kita gugur bersama sebagai ksatria."

"Terima kasih, Tera," bisik Arka tulus.

❖ ❖ ❖

Di seberang mereka, barisan musuh berdiri bagaikan bayangan maut yang siap menerkam. Pimpinan Golongan Hitam memimpin di barisan terdepan, menatap kedua remaja itu dengan seringai mengerikan yang tersungging di balik kain penutup wajahnya.

Tiba-tiba, tubuh Arka bergidik hebat. Sebuah batuk keras pecah dari tenggorokannya, memecah kesunyian malam.

Darah segar menetes dari sudut bibir Arka, mengalir deras dan membasahi tanah yang gersang. Darah itu berwarna lebih gelap dari biasanya, menandakan bahwa organ-organ dalam di dalam tubuhnya mulai mengalami kerusakan parah akibat penggunaan tenaga dalam yang melampaui kapasitas fisik.

"Arka!" Tera berseru panik, segera merangkul pundak Arka untuk mencegah pemuda itu agar tidak jatuh tersungkur ke tanah.

Arka mencengkeram dadanya sendiri. Sensasi terbakar menjalar dari ulu hati hingga ke seluruh penjuru tubuhnya. Jaringan meridiannya terasa putus satu persatu, menandakan bahwa tubuhnya mulai mencapai batas ketahanan maksimal tanpa adanya inti tenaga dalam kitab pusaka yang dapat melindungi atau memulihkan sel-sel tubuhnya yang rusak.

"Sial..." rintih Arka pelan, keringat dingin bercucuran sebesar biji jagung di pelipisnya. Penglihatannya mulai kabur, berganti dengan kilatan-kilatan cahaya putih yang menyilaukan. "Tenagaku... sudah benar-benar habis."

"Jangan bicara lagi, Arka! Fokuskan sisa konsentrasimu untuk bernapas," pinta Tera dengan nada putus asa. Gadis itu menyalurkan sedikit sisa tenaga dalam miliknya ke punggung Arka, berusaha menahan pendarahan internal yang terjadi pada sahabatnya itu.

Namun, usaha Tera ibarat menimba air dengan ember yang bocor. Tenaga dalam Tera sendiri sudah menipis hingga batas kritis setelah menghadapi puluhan pendekar bayaran dalam gelombang serangan sebelumnya.

Lihat selengkapnya