KEMELUT TERATAI KEMBAR

Amrullah Ibrahim
Chapter #95

Dorongan Jiwa dari Delapan Sahabat

Langit malam di atas Lembah Sunyi semakin membara, memantulkan warna merah darah dari ribuan obor perang yang menyala di sekeliling medan pertempuran. Di tengah arena yang terkepung rapat oleh lautan pasukan Golongan Hitam, Arka dan Tera terhuyung mundur dengan napas tersengat dan tubuh penuh luka. Serangan bertubi-tubi dari para panglima musuh telah menguras sisa tenaga dalam mereka, membuat kedua pendekar itu kini berlutut di atas tanah yang hangus dengan pedang yang nyaris terlepas dari genggaman.

Di hadapan mereka, sang penguasa kegelapan tersenyum sinis di balik zirah besinya, mengangkat pedang besar yang dialiri aura hitam pekat untuk memberikan tebasan pamungkas. "Kalian sudah habis," gerusnya dingin.

Melihat Arka dan Tera terdesak di ambang maut, suasana di sekitar mereka mendadak terasa begitu sunyi bagi para sahabat yang melihat dari barisan belakang. Tidak ada waktu untuk ragu, tidak ada ruang untuk rasa takut yang tersisa di dalam dada mereka.

Secara serentak, Fathan, Galin, Kamil, Rafar, Yafid, Zahra, Chafia, Azalia, dan Risha bangkit berdiri dari sisa-sisa reruntuhan batu tempat mereka berlindung. Meskipun tubuh mereka sendiri penuh dengan luka sayatan dan kelelahan yang teramat sangat, tekad di mata mereka menyala jauh lebih terang daripada kobaran api perang di sekeliling lembah.

"Kita tidak bisa membiarkan mereka mati sendirian di sini!" seru Fathan dengan suara parau namun tegas, menyeka darah di pelipisnya.

"Benar! Kita berjuang bersama sejak awal, dan kita akan berdiri atau jatuh bersama malam ini!" timpal Zahra mantap, melangkah maju menyusul rekan-rekannya menuju posisi Arka dan Tera yang terkepung.

❖ ❖ ❖

Gerakan kesembilan sahabat itu begitu cepat, memanfaatkan celah sempit di antara kerumunan pasukan musuh yang sempat lengah oleh ketangguhan Arka sebelumnya. Satu per satu, mereka merangkak dan berlari menembus hujan abu, mengabaikan rasa sakit yang meremukkan persendian tubuh mereka sendiri demi mencapai sisi Arka dan Tera yang hampir kehilangan kesadaran.

"Fathan? Galin? Apa yang kalian lakukan di sini?" geram Arka lemah, mencoba mendongakkan kepalanya saat merasakan tangan seseorang menyentuh bahunya. "Kalian harus... menyelamatkan diri..."

"Diamlah dan terima ini, Arka," jawab Galin tersenyum tipis, meskipun butir-butir keringat bercampur darah mengalir deras di wajahnya.

Tanpa membuang waktu sedetik pun, kedelapan sahabat sejati itu mengambil posisi melingkar di belakang Arka dan Tera. Dengan kesadaran penuh dan kebulatan tekad yang luar biasa, mereka merangkak maju dan menempelkan telapak tangan mereka secara estafet langsung ke punggung Arka dan Tera.

Rangkaian sentuhan itu membentuk sebuah rantai energi kehidupan yang menghubungkan sembilan jiwa menjadi satu kesatuan yang utuh. Arka terkesiap pelan saat merasakan aliran panas mulai meresap ke dalam tubuhnya, sebuah sensasi hangat yang belum pernah ia rasakan sebelumnya di tengah dinginnya maut yang mencengkeram.

"Kita satukan kekuatan kita," bisik Yafid penuh keyakinan dari arah belakang, tangannya menempel erat pada punggung rekan di depannya. "Biarkan mereka tahu arti persahabatan yang sesungguhnya."

Lihat selengkapnya