Desir angin lembah bergemuruh kencang, membawa sisa-sisa abu pembakaran dan hawa panas dari benturan tenaga dalam yang terus menerus terjadi di paruh kedua pertempuran. Di hadapan barisan musuh yang tersisa, Arka dan Tera berdiri berdampingan dengan sisa-sisa tenaga yang menyala di dalam meridian mereka. Di hadapan mereka, sang pimpinan tertinggi Golongan Hitam berdiri pongah dengan jubah hitam berkibar, menebarkan aura kematian yang pekat dan menyesakkan dada.
"Kalian pikir gabungan tenaga dua manusia lemah bisa meruntuhkan dominasi Golongan Hitam?" cerca pimpinan Golongan Hitam itu dengan tawa dingin yang menggema. Ia mengangkat kedua tangannya, memanggil pusaran energi hitam pekat yang berputar liar di sekeliling tubuhnya membentuk cakar-cakar kegelapan raksasa. "Kalian hanya sekadar serpihan debu di hadapan kekuatan mutlak!"
Arka menoleh sekilas ke arah Tera di sampingnya. Di punggung tangan kanan mereka masing-masing, simbol teratai emas kini menyala sangat terang, memancarkan pendar hangat yang menyatukan detak jantung dan aliran darah keduanya menjadi satu frekuensi spiritual yang selaras. Tidak ada lagi keraguan di mata mereka; yang tersisa hanyalah keyakinan mutlak atas perjuangan panjang yang telah mereka tempuh bersama seluruh sahabat.
"Tera, apakah kau siap?" bisik Arka pelan, menatap lurus ke depan dengan tatapan penuh keteguhan baja.
Tera mengangguk mantap, memegang erat hulu pedangnya sebelum melepaskannya untuk membiarkan kedua tangannya bebas mengalirkan energi suci kitab. "Aku bersamamu sampai akhir, Arka. Mari kita akhiri semua kegelapan ini."
Dengan satu teriakan lantang yang menyatukan tekad seluruh kelompok yang menonton dari kejauhan, Arka dan Tera melepaskan pukulan pamungkas Jurus Teratai Kembar. Kedua telapak tangan mereka mendorong ke depan secara bersamaan, melepaskan gelombang energi spiritual purba yang langsung mengubah warna langit malam menjadi keemasan yang menyilaukan.
❖ ❖ ❖
Dua kuntum teratai raksasa dari energi murni melesat menembus udara dengan kecepatan yang melampaui batas pandangan mata manusia biasa. Kelopak-kelopak teratai itu memancarkan cahaya suci yang begitu menyengat, mengoyak habis lapisan pelindung Ilmu Hitam Pemusnah yang dipasang oleh sang pimpinan musuh tanpa mampu ditahan sedikit pun.
SREEEK! BOOM!
Suara robekan energi gelap terdengar begitu nyaring, bagaikan ribuan petir yang menyambar secara bersamaan di tengah malam sunyi. Lapisan pertahanan terkuat Golongan Hitam yang selama ini dianggap kebal oleh dunia persilatan hancur lebur berkeping-keping dalam sekejap mata begitu tersentuh oleh pendar kelopak teratai tersebut.
"Apa?!" teriak pimpinan Golongan Hitam dengan nada tidak percaya, matanya membelalak lebar saat melihat perisai kegelapannya buyar bagaikan asap yang ditiup angin topan. "Benteng pelindungku... hancur begitu saja?!"
"Itulah kekuatan dari takdir yang tidak bisa dibeli oleh ilmu hitammu!" seru Tera dengan suara jernih yang menggemengar tajam menembus dentuman energi.