KEMELUT TERATAI KEMBAR

Amrullah Ibrahim
Chapter #98

Runtuhnya Benteng Kejahatan Abadi

Angin malam di puncak bukit berembus kencang, membawa serta debu dan sisa-sisa bara api yang berpijar di antara puing-puing bangunan batu yang hancur. Suasana di sekitar benteng utama Golongan Hitam berubah drastis dalam sekejap mata, dari sebuah markas angker yang penuh dengan aura pembantaian menjadi padang kehancuran yang sunyi dan mencekam. Pertempuran puncak yang melelahkan itu akhirnya mencapai titik nadir penentuan setelah benturan kekuatan spiritual terakhir menghancurkan pelindung hitam yang selama ini menaungi markas besar musuh.

Tewasnya pimpinan tertinggi Golongan Hitam memicu reaksi berantai di antara sisa pasukan musuh yang kehilangan komando dan moral tempur. Para jenderal bayangan yang selama ini ditakuti di seluruh dunia persilatan tergeletak tak bernyawa di atas pelataran batu, meninggalkan kepanikan massal di kalangan prajurit bawahan yang tersisa.

"Pemimpin kita telah tewas! Pertahanan kita sudah hancur!" teriak seorang panglima perang musuh dengan suara serak dan panik, menjatuhkan pedangnya ke atas tanah.

Di hadapan mereka, Arka berdiri tegak dengan napas terengah-engah, jubah putihnya robek di berbagai sisi dan berlumuran noda darah kering. Ia menatap sekeliling dengan pandangan tajam, menyaksikan bagaimana keangkuhan Golongan Hitam yang telah meneror dunia persilatan selama puluhan tahun kini runtuh berkeping-keping dalam satu malam penuh darah dan air mata.

Tera melangkah mendekati Arka perlahan, menyandarkan tubuhnya yang letih di samping sang pemuda sambil tersenyum tipis melegakan. "Kita berhasil, Arka... mereka benar-benar telah kehilangan kendali sepenuhnya."

"Ya, Tera," jawab Arka parau, suaranya bergetar menahan kelelahan yang teramat sangat di sekujur tubuhnya. "Tapi kita tidak boleh lengah. Sisa-sisa pasukan mereka masih berkeliaran di dalam kompleks benteng."

Namun, kekhawatiran Arka tidak berlangsung lama. Gelombang kepanikan yang melanda barisan musuh kini berubah menjadi gelombang pelarian massal. Para prajurit bayaran yang sebelumnya bertarung tanpa kenal takut kini membuang zirah dan senjata berat mereka ke lantai, berlarian tanpa arah bagai kawanan domba yang kehilangan induknya.

❖ ❖ ❖

Benteng utama dan pos-pos pertahanan terakhir Golongan Hitam runtuh seketika, terbakar habis oleh sisa gelombang spiritual Teratai Kembar yang memancar liar ke segala arah. Kobaran api keemasan dan kebiruan menyapu dinding-dinding batu purba, melahap habis menara pengawas dan gudang senjata tempat musuh menyimpan kutukan gelap mereka.

Bum... cratsh!

Suara reruntuhan bangunan batu yang ambruk terdengar bertubi-tubi memecah keheningan lembah. Menara utama benteng yang menjulang tinggi selama ratusan tahun perlahan-lahan retak di bagian tengahnya, sebelum akhirnya ambruk menimpa pelataran utama dalam kepulan debu yang sangat tebal.

"Cepat cari tempat perlindungan! Menara utama akan runtuh sepenuhnya!" seru Ki Ranu dari kejauhan, memberi aba-aba kepada para anggota Aliansi Putih untuk menjauh dari zona bahaya.

Fathan dan Galin, yang berdiri tidak jauh dari gerbang runtuh, segera melompat mundur menghindari reruntuhan batu besar yang menggelinding ke arah mereka. "Wah, rumah megah mereka benar-benar rata dengan tanah dalam waktu kurang dari satu jam!" seru Galin sambil tertawa kecil, menyeka keringat di dahinya dengan punggung tangan.

"Itulah akibat dari membangun kekuasaan di atas penderitaan orang lain," balas Fathan tenang, menatap kobaran api yang kini menerangi langit malam menjadi kemerahan. "Bangunan sekuat apapun akan runtuh jika fondasinya dibangun atas kebencian."

Zahra dan Chafia berdiri di dekat pos medis darurat, menyaksikan pemandangan dramatis tersebut dengan perasaan takjub bercampur haru. Semua rasa lelah, luka, dan ketakutan yang mereka pendam selama berbulan-bulan pelarian kini seolah terbayar lunas melihat kejatuhan imperium kegelapan tersebut.

"Kita benar-benar menyaksikan akhir dari mimpi buruk ini, Zahra," bisik Chafia lirih, air mata bahagianya menetes perlahan membasahi pipinya yang kotor oleh debu perang.

Lihat selengkapnya