KEMELUT TERATAI KEMBAR

Amrullah Ibrahim
Chapter #99

Fajar Baru di Rimba Persilatan

Mentari pagi perlahan menerobos ufuk timur, memancarkan sinarnya yang keemasan ke seluruh penjuru rimba persilatan yang kini kembali diselimuti kedamaian. Embun pagi masih tampak bergelayut manja di ujung-ujung daun pepohonan purba, berkilau bagai permata di bawah terpaan cahaya pagi yang hangat. Suara kicauan burung liar bernyanyi bersahutan, menggantikan deru suara pedang dan dentuman tenaga dalam yang selama berbulan-bulan terakhir mencekam wilayah perbatasan. Langit biru jangkau tanpa sedikit pun kepulan asap hitam atau awan kelam pertanda perang, menandakan bahwa fajar baru yang telah lama dinantikan oleh seluruh kaum pesilat akhirnya benar-benar tiba di bumi pertiwi.

Di pelataran depan markas utama kelompok Arka, suasana tampak begitu tenang dan menenangkan jiwa yang lelah. Arka berdiri di dekat pagar batu pembatas, mengenakan jubah sederhana berwarna putih bersih, menikmati hembusan angin pagi yang menyapu wajahnya dengan lembut. Perjalanannya yang panjang dan berdarah-darah kini telah sampai pada pelabuhan terakhir, membawa serta kemenangan yang ditebus dengan pengorbanan yang tidak sedikit. Bekas-bekas reruntuhan akibat pertempuran sengit beberapa waktu lalu kini mulai dibersihkan dan diperbaiki oleh tangan-tangan penuh semangat dari para relawan muda.

"Pagi yang sangat indah, Arka," suara lembut Tera terdengar dari arah belakang. Wanita itu melangkah mendekat dengan senyuman manis terkembang di bibirnya, membawa dua cangkir teh herbal hangat yang mengepulkan uap tipis ke udara pagi. "Aku hampir lupa bagaimana rasanya menikmati matahari terbit tanpa harus mendengar suara derap pasukan musuh."

Arka menoleh, menyambut cangkir teh dari tangan Tera dengan senyuman tulus. "Kita telah melalui malam yang sangat panjang, Tera. Dan pagi ini adalah hadiah yang pantas untuk semua orang yang telah bertahan hidup," ucap Arka pelan, menyesap teh hangat itu perlahan-lahan untuk meredakan tenggorokannya.

"Tidak ada lagi suara ancaman atau rasa takut yang menghantui tidur kita," timpal Tera sambil mengedarkan pandangannya ke sekeliling lembah yang asri. "Dunia persilatan akhirnya bisa bernapas lega setelah bertahun-tahun berada di bawah bayang-bayang ketakutan."

Kabar kemenangan besar ini tentu tidak tinggal diam di dalam batas lembah mereka. Riuh rendah kebahagiaan dan kelegaan segera bergema ke seluruh penjuru mata angin, mengubah peta kekuatan rimba persilatan secara permanen dan memulihkan tatanan moral yang sempat runtuh akibat ambisi kejam faksi hitam.

❖ ❖ ❖

Kabar kehancuran total Golongan Hitam menyebar dengan cepat ke seluruh penjuru perguruan, membawa kelegaan yang luar biasa bagi dunia persilatan yang sudah lama menderita di bawah tirani mereka. Burung-burung pembawa pesan beterbangan tanpa henti dari satu gunung ke gunung lain, membawa gulungan surat kemenangan yang disambut dengan isak tangis haru dan sorak-sorai sukacita oleh para pendekar dari berbagai faksi netral.

Di Perguruan Langit Biru, para tetua perguruan membaca surat laporan kemenangan tersebut di hadapan seluruh murid dengan mata berkaca-kaca karena rasa syukur yang mendalam. "Golongan Hitam telah musnah... pemimpin mereka tewas, dan sisa pasukannya telah membubarkan diri," umum sang ketua perguruan dengan suara bergetar penuh wibawa.

Berita itu menyebar dari kota ke kota, dari desa perbatasan hingga ke lembah-lembah terpencil tempat para pengungsi korban perang berlindung selama ini. Nama Arka dan kelompoknya kini diagungkan sebagai pahlawan sejati yang telah membebaskan dunia persilatan dari cengkeraman maut kegelapan. Tidak ada lagi ketakutan akan penjarahan malam hari, tidak ada lagi penculikan para pendekar muda, dan tidak ada lagi rasa cemas setiap kali matahari terbenam di ufuk barat.

"Kita benar-benar telah merdeka dari cengkeraman mereka," ujar seorang pendekar tua faksi utara sambil menatap lurus ke arah langit cerah. "Anak muda bernama Arka itu telah melakukan hal yang bahkan tidak mampu dilakukan oleh gabungan seluruh perguruan besar di negeri ini."

Di pasar-pasar rakyat, para pedagang dan penduduk desa mulai membuka kembali kedai-kedai mereka dengan senyuman lebar, merayakan hari kebebasan baru dengan bernyanyi dan menari di sepanjang jalan utama. Roda kehidupan kembali berputar dengan normal, dilandasi oleh rasa aman yang lama hilang dari sanubari mereka.

Lihat selengkapnya