KEMUNGKINAN (PILIHAN, CINTA & TAKDIR)

digo novriandio s
Chapter #1

Pertemuan

Pagi itu, terasa sejuk dan menenangkan, hal yang baik untuk melanjutkan hidup di hari senin yang penuh dengan arogansi, kecepatan, ambisi dan keegoisan manusia di ibu kota ini. Jakarta, tempat yang sempat membuat Satrio berpikir panjang, apakah ini tempat yang tepat untuk dirinya merantau jauh dari kampung yang dia cintai untuk berkuliah di universitas swasta yang uang bangunannya saja bisa sekolahin kedua saudara perempuannya yang masih SMP dan SMA, dan sekarang dia pun sudah lulus, lalu dihadapkan dengan kenyataan menjadi lulusan desain grafis itu tidak mudah mencari kerja. 

Benar, sarjana desain grafis, entah apa yang terpikir di benak Satrio saat itu ketika memilih jurusan ini. Hanya dengan modal juara gambar manga jepang tingkat provinsi, dengan mantap Satrio memilih jurusan itu, tanpa berpikir apakah ini cukup dan pantas menjadi pegangan hidup di masa depan. Terbukti, prestasi di kuliah cukup bagus, Cum Laude, IPK 3.7, nyaris sempurna tapi tidak sesempurna itu untuk menjadi tumpuan hidup Satrio saat ini. Teringat wejangan ibunya yang bilang " Bunda dukung semua keputusan kamu, tapi ingat apa yang kamu pilih, kamu harus bertanggung jawab atas itu! ".

Hingga pagi ini, hari ini menjadi penentu, dari sekian banyak lamaran yang sudah Satrio sebar dari hampir 3 bulan lamanya, akankah membuahkan hasil atau tidak. Hari ini akan ada wawancara kerja dengan salah satu studio agency terbesar di Jakarta, semua orang yang menekuni bidang desain grafis sangat ingin bekerja disini dan Satrio yang mendapatkan salah satu kesempatan wawancara itu. Bermodalkan IPK 3.7 itu serta portfolio yang sudah di buat semaksimal dan seindah mungkin dia pun bergegas menuju kantor studio agency tersebut. Mandi secepat kilat, memakai pakaian terbaik, sepatu loafers coklat tua mengkilap, tas tote bag besar yang berisikan buku sketsa dan laptop butut kesayangannya yang merupakan kado ulang tahunnya pada saat awal masuk kuliah, serta uang bulanan yang hanya cukup untuk 3 hari kedepan saja sebelum bunda tercinta transfer uang bulanan lagi.

Satrio pun siap untuk jalan ke studio agency tersebut menggunakan motor matic kesayangannya, Blacky. Kenapa Blacky, karena sebegitu kotor dan dekilnya motornya tersebut, motornya berwarna hitam, di cucipun bukan menjadi prioritas utama Satrio saat ini, karena harus selalu berhemat setiap bulannya, dengan penuh harapan Satrio pun bergegas menuju kesana. Sepanjang perjalanan Satrio teringat bagaimana jika wawancara ini gagal lagi, sudah hampir 3 bulan semenjak kelulusan, belum ada satupun yang cocok dan menerima dia bekerja. Dalam pikirnya selalu terbesit rasa sesal dan bersalah akan keputusan yang diambil dulu. Dia tidak bodoh, berprestasi, hanya saja keberuntungan belum mendatanginya sampai saat ini. Apalagi adek-adeknya butuh uang untuk sekolah mereka, semua uang tabungan Bundanya digunakan untuk kuliahnya, terlalu besar beban yang harus dia pikul, tapi belum bisa berbuat banyak, malah Bundanya yang masih mengirimkan uang bulanan kepada Satrio. 

Terbawa dengan pikiran itu, Satrio hilang kendali dan "GUBRAK !!!!!!!"

Satrio menabrak mobil yang ada didepannya karena berhenti mendadak, lamunan yang membawa petaka. Untungnya tabrakan itu tidak menghancurkan motor kesayangannya, tapi sayangnya menggores bagian belakang mobil yang dia tabrak tersebut. Dengan penuh kebingungan, Satrio pun berdiri terdiam di sebelah motornya sambil melihat kebodohannya pagi itu, sungguh berat, padahal pagi ini begitu cerah. 

Lihat selengkapnya