Cahaya jingga jatuh di atas permukaan air, memantulkan bayangan seorang perempuan anggun yang berdiri tepat di sampingnya. Dia adalah Ibu, sosok yang kehangatannya masih mengalir dalam setiap hembusan napas, meski raganya telah menyatu dengan keabadian. Ombak kecil bergulung pelan, menyapu jejak kaki mereka, menghapus batas antara dunia nyata dan kenangan.
"Nara, ingatkah kamu dulu waktu kecil, kamu selalu menangis saat ombak menyentuh kakimu?" tanya Ibu sambil terkekeh pelan. Matanya menerawang jauh, menikmati angin laut yang memainkan helaian rambutnya.
Nara ikut tertawa, kenangan masa kecil itu menguar di benaknya. "Iya, Bu. Waktu itu aku pikir airnya akan menelan kakiku. Tapi sekarang, aku justru merasa tenang berada di sini bersama Ibu."