Di bawah gemerlap Jakarta, kedua anak keluarga bu Siti hidup dalam topeng keberhasilan mereka sendiri. Bayu, si sulung yang sukses sebagai manajer investasi, menyembunyikan fakta bahwa karirnya di ambang kehancuran akibat ambisinya. Nara, anak pertama yang menjadi remaja yang ingin meneruskan karir yang merasa tidak cukup baik dan mengidap gangguan kecemasan akut (anxiety disorder). Sementara pak Wijaya seorang ayah yang idealis, berjuang keras mempertahankan idealisme bermusiknya di tengah jeratan utang pinjaman daring.
Mereka bertiga terlalu sibuk untuk sekadar mengejar keegosiaan dari masing – masing keluarga. Di sebuah rumah joglo tua di pinggiran Jakarta, Pak Wijaya merawat istrinya, Ibu Siti sendirian. Suatu malam, Ibu Siti pingsan saat menyiram tanaman. Dokter mendiagnosisnya mengidap kanker stadium akhir. Menyadari waktu istrinya tidak banyak lagi, bu Siti mengirim satu pesan singkat ke grup keluarga: "Ibu kangen kalian. Pulanglah sebentar."