‘’Setiap jengkal kenangan masa kecil adalah jangkar yang menguatkanku dan kini di masa dewasa, kenangan itulah yang menjadi sayapku untuk terbang lebih tinggi.’’
Suara deru koper yang ditarik memecah keheningan malam di ruang tamu yang sempit. Di sudut ruangan, Ibu menatap Nara dengan mata sembab. Sementara itu, Ayah terdiam sambil mengepulkan asap rokok kreteknya di kursi rotan. Tidak ada tawa seperti biasanya; yang tersisa hanyalah kecanggungan yang terasa menyiksa.
"Kapan jadwal keretamu besok, Ra?" tanya Ibu memecah keheningan, suaranya bergetar menahan tangis.
Nara melirik jam tangan digitalnya dengan gerakan cepat, seolah waktu berjalan terlalu lambat di rumah ini. "Pagi, Bu. Jam tujuh pagi Nara harus sudah di stasiun. Biar nanti kesampaian ke Yogyakarta," sahut Nara tanpa menatap mata ibunya. Ia sibuk merapikan jaketnya, mengabaikan tatapan redup dari wanita yang telah melahirkannya.
Perjalanan ke Yogyakarta bagi Nara bukan sekadar batu loncatan karier, melainkan sebuah pelarian dari jeratan ekonomi dan tuntutan keluarga di kampung. Di benaknya, hanya ada gemerlap kota pelajar, kafe-kafe estetik, dan masa depan baru yang gemilang. Ia telah lama memupuk angan untuk lepas dari keterpurukan ekonomi yang mendalam.