Suara Bu Leni terputus oleh bunyi benturan keras ponsel di seberang sana tampaknya terjatuh ke lantai. Melalui pelantang yang masih menyala, Nara bisa mendengar suara jeritan panik yang bersahut-sahutan di dalam rumah masa kecilnya itu.
"Astagfirullah, Jeng Siti! Mbak Nara! Ibu pingsan di lantai ruang tengah! Badannya dingin banget!" suara Bu Lastri melengking jauh, disusul derap langkah kaki tetangga yang mulai berdatangan.
Detik itu juga, seluruh kekuatan di kaki Nara lenyap. Tubuhnya merosot dari kursi kerja, jatuh terduduk di atas lantai marmer apartemen Yogyakarta yang dingin. Ponselnya terlepas dari genggaman, tergeletak begitu saja di dekat kakinya.
Nara ingin berteriak memanggil ibunya, namun tenggorokannya terasa tercekat. Hanya air mata yang keluar begitu deras, mengalir tanpa suara. Rasa bersalah yang teramat besar menghantam dadanya seperti godam. Ia memandangi tumpukan berkas proposal proyek di atas meja—dokumen yang ia susun setengah mati selama berbulan-bulan, yang membuatnya mengabaikan tiga telepon dari ibunya minggu lalu.
"Nara? Mbak Nara? Masih di sana?" Suara Bu Leni terdengar samar dari lantai.