Kenangan di Ujung Senja

Nurhafizatur Rahmi
Chapter #4

Merebahkan Lelah.

Keesokan harinya....

Ibu Siti meminta anak-anaknya untuk menemaninya melakukan aktivitas sederhana yang sering mereka lakukan dulu. Aris diminta membantunya memetik mangga di kebun, Bayu diajak melipat kain batik kuno milik neneknya, dan Nara diminta memainkan gitar tua di teras rumah.

Saat berdua dengan Nara, Ibu Siti berbisik lembut, "Nara, uang bisa dicari, tapi waktu bersama keluarga tidak bisa diulang. Jangan sampai kamu menyesal seperti Ibu yang dulu terlalu sibuk kerja." Kalimat itu meruntuhkan pertahanan Nara ia menangis di pangkuan ibunya, melepaskan beban batinnya yang ia pendam sendiri.

Kepada Nara, Ibu Siti memberikan pelukan hangat yang selama ini dirindukan Nara, meyakinkannya bahwa dia sudah sangat membanggakan tanpa harus menjadi sempurna. Sementara Pak Wijaya diam-diam melunasi biaya pendidikan Bayu yang menggunakan tabungan pensiunnya, bukan untuk memanjakannya, melainkan agar Bayu bisa melanjutkan pendidikan. Di rumah itu, di bawah atap yang bocor saat hujan yang akhirnya melepaskan topeng sukses mereka. Mereka menangis, saling memaafkan, dan merebahkan segala lelah yang selama ini mereka pikul sendirian di perantauan.

 


Lihat selengkapnya