Aroma kopi tubruk yang dibawa sang ayah dari rumah masih menguar tipis dari gelas kertas di genggamannya, seolah menolak hilang diembus angin sore. Di ujung senja ini, napas Nara terasa memberat. Perjalanan menuju Yogyakarta malam nanti bukan sekadar perpindahan kota, melainkan babak baru di mana ia harus melepaskan kenyamanan masa remajanya.
"Kereta kamu sebentar lagi berangkat, Nara," bisik sang ibu lembut. Beliau merapikan syal rajut di leher Nara, matanya berkaca-kaca menahan rindu yang belum juga diucapkan. "Jangan lupa makan tepat waktu di sana. Ibu sudah masukkan resep sambal favoritmu di dalam koper."
Nara tersenyum tipis, meski bibirnya terasa kelu. Ia menatap lekat wajah ibunya, mencari kekuatan yang selalu menjadi jangkar hidupnya. "Ibu juga harus janji jangan terlalu lelah mengurus rumah. Nanti kalau hari libur kerja, Nara pasti langsung pulang," sahutnya, suaranya tercekat di tenggorokan.