Jingga langit sore itu memantul sempurna di permukaan air laut yang mulai surut, menyisakan hamparan pasir basah yang dingin dan cermin langit yang luas. Di ujung senja yang seimbang—antara sisa-sisa cahaya hangat dan datangnya kelam malam—kami berlarian. Aku dan Ibu.
Tawa Ibu selalu terasa seperti sihir yang menepis dinginnya angin pantai. Rambutnya yang basah dan hitam legam menari-nari ditiup angin, berkejaran dengan deburan ombak kecil yang menyapu mata kaki kami.
"Ayo, kejar Ibu kalau bisa!" teriak Ibu sambil tertawa lepas, berlari menuju gugusan karang yang mulai terlihat puncaknya.
"Curang! Ibu lari duluan!" balasku berseru, mengerahkan seluruh tenaga kecilku untuk menyusul langkahnya yang anggun.