Udara pagi di halaman belakang terasa lebih segar dari biasanya. Nara menyesap teh hangatnya perlahan, membiarkan kehangatan menjalar di tenggorokan. Di sebelahnya, sebuah pot berisi bunga forget-me-not tumbuh subur—tanaman yang dulu dirawatnya bersama Ibu.
Kehilangan memang tidak pernah terasa mudah. Tiga bulan pertama adalah badai yang mengaburkan segalanya. Namun, hari ini, saat Nara menatap langit biru jernih, ia menyadari satu hal. Ibu tidak benar-benar pergi; kenangan dan nilai-nilai kebaikan yang diajarkan telah berakar kuat di dalam dirinya.
Nara tidak lagi menangis karena kesedihan yang menyesakkan. Ia menangis karena rasa syukur. Ia kini memiliki sayap untuk melangkah maju, membawa serta cinta ibunya sebagai kompas kehidupan.