Cahaya biru dari layar laptop menjadi satu-satunya sumber penerangan di ruang kerja lantai empat itu. Jarum jam menunjukkan pukul 23:45 WIB. Nara memijat pelipisnya yang berdenyut, menatap deretan angka dan kode transaksi janggal yang baru saja ia pecahkan. Ini adalah bukti penggelapan dana Yayasan Cakra senilai Rp. 500.000.000 yang selama ini disembunyikan.
Tiba-tiba, suara langkah kaki mendekat dari lorong. Nara segera mematikan layar, menyisakan kegelapan pekat sebelum pintu ruangannya terbuka. Sebuah bayangan tinggi berdiri di ambang pintu.
"Nara? Belum pulang?" sapa suara bariton yang sangat ia kenal Ardi, sang Kepala Divisi Keuangan.
Nara berusaha mengatur napasnya agar tetap tenang. Ia bersandar di kursinya, mencoba menyembunyikan rasa gugupnya di balik bayang-bayang. "Ya, Pak Ardi. Ada beberapa dokumen yang harus saya selesaikan malam ini."
"Bekerja keraslah. Tapi ingat, Nara, terlalu penasaran pada hal yang bukan ranahmu sering kali berujung petaka," balas Ardi pelan. Kakinya melangkah mendekati meja Nara. Langkahnya terdengar berat dan lambat.
Nara menatap siluet Ardi dalam remang-remang, mencerna setiap kata yang mengandung ancaman terselubung itu. "Maksud Bapak?"
Ardi berhenti tepat di depan meja Nara. Ia tersenyum tipis, sebuah seringai yang dingin. "Jangan pura-pura bodoh, Nara. Saya tahu kamu sudah mengakses data aliran dana yayasan di folder X-4."