Langkah kaki Nara menggema cepat di lorong lantai lima. Napasnya memburu, bukan karena kelelahan berlari, melainkan ledakan amarah yang sudah ia tahan sejak satu jam lalu. Di tangannya, sebuah map biru berisi salinan surel dan laporan keuangan yang membuktikan satu hal: Arga, rekan kerja sekaligus orang yang paling ia percaya, telah menjual data proyek klien utama mereka ke perusahaan kompetitor.
Pintu ruang arsip didorongnya kasar. Bunyi decitan nyaring menghentikan aktivitas seorang pria yang sedang berdiri di depan mesin penghancur kertas. Arga menoleh. Kacamata bacanya melorot sedikit di pangkal hidung, raut wajahnya berubah dari terkejut menjadi tegang saat melihat tatapan mata Nara yang menajam.
"Nara? Tumben"
"Cukup, Ar. Cukup sandiwaranya." Nara melempar map biru itu tepat ke dada Arga. Dokumen-dokumen di dalamnya berserakan di lantai, menampilkan angka-angka dan grafik yang menjadi saksi bisu pengkhianatan di tim mereka.
Arga membeku. Ia menatap map yang jatuh, lalu kembali menatap Nara dengan sorot mata yang sulit diartikan. Ia tidak membela diri. Hal itu justru membuat dada Nara semakin sesak. Persahabatan dan kerja sama yang mereka bangun selama tiga tahun hancur lebur dalam hitungan detik.