Udara sore di Taman Kota seolah kehilangan kehangatannya. Nara duduk di bangku kayu bercat putih yang mulai mengelupas, menatap lurus ke arah danau buatan. Riak airnya tenang, berbanding terbalik dengan gemuruh di kepalanya.
Jari-jarinya mengusap liontin kalung perak berbentuk matahari—hadiah terakhir dari sang ibu. Seketika, wangi melati yang lembut tercium samar, mengalahkan aroma tanah basah sehabis hujan. Nara memejamkan mata, membiarkan ingatannya memutar kembali kepingan memori masa lalu.
“Jika dunia terlalu bising, Nak, datanglah ke taman ini. Ibu akan selalu ada di setiap helai angin yang menyentuh wajahmu,” bisik suara itu di telinganya. Suara yang sangat ia rindukan, namun kini terasa begitu jauh.
Mata Nara terbuka, menatap pantulan dirinya di permukaan air. Apakah ibunya benar-benar sudah pergi? Atau jangan-jangan, ada alasan lain mengapa wanita itu harus meninggalkannya secepat ini?