Kenangan di Ujung Senja

Nurhafizatur Rahmi
Chapter #13

Buih yang Tertinggal

Deru ombak Pantai Sadranan selalu punya cara sendiri untuk meredam bising di kepala. Nara menghirup udara malam dalam-dalam, membiarkan aroma garam dan pasir basah memenuhi rongga dadanya. Yogyakarta selalu menjadi pelarian terbaik saat Jakarta terasa terlalu mencekik. Di sini, di tepi pantai yang mulai sepi ini, dia mencoba mencari potongan dirinya yang hilang kedamaian yang lama absen sejak rumahnya berubah menjadi medan perang dingin antar-orang tua.

Nara memeluk lututnya, menatap nanar pada garis cakrawala yang kian menggelap.

"Kakak, istana pasirnya jangan diinjak, ya?"

Sebuah suara cempreng memecah lamunan Nara. Ia menoleh dan menemukan seorang anak laki-laki berusia sekitar enam tahun sedang berlutut di dekat kakinya. Anak itu memakai kaus garis-garis yang agak kebesaran, sibuk menepuk-nepuk gundukan pasir basah dengan ember plastik kecil.

Nara tersenyum tipis, menggeser sedikit posisi duduknya. "Enggak kok. Kakak cuma lihat air lautnya. Nama kamu siapa?"

"Bumi!" jawab anak itu riang tanpa mengalihkan pandangan dari mahakarya pasirnya. "Bumi sedang bikin rumah besar untuk Ibu, Bapak, sama Bumi. Biar kalau ombaknya datang, kita bisa sembunyi di dalam bersama-sama."

Dada Nara mendadak berdenyut nyeri. Kata 'bersama-sama' terasa begitu asing di telinganya. "Rumahnya harus kuat ya, Bumi. Biasanya, ombak di sini suka galak."

Lihat selengkapnya