Udara malam berembus dingin, menerobos jaket rajut Nara yang sudah menipis. Langkah kakinya terhenti tepat di depan pintu indekos bercat biru pudar. Di tangannya, sebuah termos sup hangat mengepulkan uap tipis, kontras dengan gemuruh cemas di dadanya.
Ini pukul sembilan malam. Seharusnya ia tidak datang mendadak. Namun, telepon terakhir dari Bayu dua hari lalu terdengar terlalu janggal untuk diabaikan.
“Kak, Ibu sangat merindukanmu,” ucap Bayu waktu itu. Suaranya terputus, disusul bunyi klik yang memekakkan telinga.
Nara mengetuk pintu tiga kali. Dari dalam, terdengar gesekan kursi kayu, lalu langkah kaki yang diseret. Pintu terbuka sedikit, menampilkan wajah Rian yang pucat pasi, matanya sembab.
"Bayu?" panggil Nara, suaranya tercekat.
Bayu tidak langsung menjawab. Ia menatap termos sup di tangan kakaknya, lalu beralih menatap jalanan di belakang Nara. Seolah ada yang sedang ia awasi.
"Masuklah, Kak," bisik Bayu pelan, membuka pintu lebih lebar.