Aroma tanah basah dan desau angin sore menyambut Nara begitu ia melangkah keluar dari kendaraan. Setelah bertahun-tahun menulikan telinga dari bisingnya deru kota rantau yang tak kenal ampun, keheningan kampung halaman ini terasa seperti sebuah pelukan. Di ujung jalan setapak, samar-samar ia melihat sosok yang paling dirindukan berdiri di depan beranda, menunggunya pulang. Ponsel di genggamannya bergetar, menampilkan sebaris pesan singkat dari Nara yang dikirim siang tadi.
“Sudah aku serahkan, bu. Hari ini aku akan pulang ke rumah.”
Bu Siti menatap layar itu cukup lama. Ada helaan napas berat yang lolos dari suaminya, sebuah ekspresi yang menyiratkan campuran antara rasa lega yang masif dan beban baru yang mendadak menumpuk di pundaknya. Ia meletakkan ponselnya di meja, lalu memijat pangkal hidungnya yang terasa pening.
Saat pintu depan terbuka dan langkah kaki Nara terdengar mendekat, pak Wijaya langsung berdiri. Ia menyambut adeknya dengan sebuah pelukan hangat, sebuah gestur terima kasih atas pengorbanan besar yang baru saja Nara lakukan. Namun, pelukan itu terasa sedikit berbeda bagi Nara ada ketegangan yang tidak bisa disembunyikan dari pundak bapaknya.