Kenangan di Ujung Senja

Nurhafizatur Rahmi
Chapter #19

Melodi Ingatan

Ponsel Nara bergetar hebat di atas meja makan. Pak Wijaya yang baru setahun ini merintis pekerjaan wiraswasta. Rupanya, kabar pengunduran diri Nara sudah sampai ke telinga keluarga besar setelah Nara sempat mengirim pesan di grup WhatsApp keluarga beberapa jam lalu.

Nara menggeser tombol hijau dengan tangan yang masih sedikit gemetar akibat ucapan pak Wijaya  sebelumnya. Belum sempat Nara menyapa, suara melengking Dinda sudah memenuhi sambungan telepon.

"Nara gila, ya?!" Cerocos pak Wijaya tanpa basa-basi. "Mbak tahu nggak, nyari posisi manajer di zaman sekarang itu susahnya setengah mati? Aku yang masih staf aja engap-engapan, Mbak malah lepas gitu aja!"

Nara menjauhkan ponselnya beberapa sentimeter dari telinga, lalu menghela napas lelah. "Nara, pelan-pelan suaramu.  baru aja tidur," tegur Nara, mencoba tetap tenang meski dadanya makin bergemuruh. "Mbak ngelakuin ini demi ibu. Demi keluarga."

"Demi keluarga atau demi ego Nara?!" Suara pak Wijaya meninggi, sarat akan rasa frustrasi dan ketidaksetujuan. "Nara itu tulang punggung keluarga. Nara yang ngajarin keluarga arti pantang menyerah dalam hidup!. Sekarang Mbak malah mau jadi penonton di rumah? Suratnya bisa ditarik lagi, kan? Tolong bilang sama aku kalau itu belum final!"

Lihat selengkapnya