Kenangan di Ujung Senja

Nurhafizatur Rahmi
Chapter #21

Mencari Jalan Pulang

Di seberang sana, di sudut kafe yang bising oleh suara mesin espreso, Nara terpaku menatap layar ponselnya. Latar belakang langit Jakarta yang perlahan menggelap dari jingga menjadi hitam pekat seolah mempertegas baris-baris kalimat yang dikirimkan kakaknya. Kemarahan yang tadinya meluap-luap di dada Bayu mendadak surut, digantikan oleh rasa sesak yang membuat matanya terasa panas.

Bayu  tahu persis seberapa keras perjuangan Nara untuk mencapai posisi manajer. Ia adalah saksi hidup saat kakaknya harus lembur hingga subuh, menangis karena tekanan kerja, namun tetap berdiri tegak. Kalimat "Mbak cuma memutuskan untuk pulang tepat ketika berada di ujung senja" menghantam kesadaran Bayu. adeknya tidak sedang menyerah melainkan kakaknya hanya sedang memilih bentuk keberanian yang lain.

Jemari Bayu gemetar di atas papan ketik ponselnya. Ia menghapus draf balasan kasarnya yang penuh kepanikan, lalu menggantinya dengan kalimat pendek yang sarat akan kepasrahan sekaligus peringatan.

“Mbak Nara selalu tahu cara bikin aku nangis. Oke, kalau itu mau Mbak, aku bakal coba buat paham. Aku bakal selalu ada di belakang Mbak.”

Lihat selengkapnya