Lampu neon lorong rumah sakit berkedip lemah, seirama dengan detak jantung Nara yang berpacu kencang. Kereta malam dari Yogyakarta baru saja merapat di stasiun, tetapi langkah kakinya terasa begitu berat menelusuri lantai dingin ini. Di ujung lorong, di depan Ruang Melati 3, isak tangis yang tertahan menguar.
Nara mempercepat langkahnya, melewati bayang-bayang keluarganya yang berkumpul dengan wajah sembab. Di atas ranjang putih bernomor 404, sosok yang paling ia cintai terbaring kaku, tertutup kain putih hingga ke dada.
"Bu?" panggil Nara dengan suara bergetar. Kakinya lemas, berlutut tepat di samping ranjang.
Hening menyergap sejenak sebelum suara serak ayahnya memecah sunyi. "Nara... kamu sudah sampai, Nak." Tangan renta itu terulur, menepuk pundak Nara pelan, namun tak ada lagi senyum hangat yang menyambut kepulangannya kali ini.
Nara menatap wajah sang ibu yang pucat dan damai di balik kain penutup. Seketika, dinding pertahanannya runtuh. Air mata menderas, membasahi ujung selimut rumah sakit. Rasa sesal menghantam dadanya layaknya ombak besar. Bayangan pesan singkat ibunya beberapa bulan yang lalu ‘’Pulanglah sebentar, Nara, Ibu rindu’’ terngiang-ngiang, menusuk ulu hatinya. Penyesalan terburuknya adalah membiarkan pesan itu tertunda karena tugas kuliah yang menumpuk.