Udara malam berhembus lembut di teras rumah bercat putih itu. Di atas meja kayu panjang, hidangan tradisional tersaji rapi, mengepulkan aroma hangat yang mengundang selera. Nara berdiri dari kursinya, memandang satu per satu wajah yang hadir di ruangan itu. Ada Bi Imah, tetangga terdekat yang sering mengantarkan lauk, Bu RT yang selalu sigap membantu urusan administrasi, serta Rina, sahabat karib Nara yang tak kenal lelah menemani sang ibu setiap kali penyakit asmanya kambuh.
Nara menarik napas panjang, menahan haru. Ia mengangkat gelas air mineralnya dengan tangan yang sedikit bergetar, lalu tersenyum menatap orang-orang yang sangat berjasa dalam hidupnya.
"Bu Lastri yang Nara sayangi," ucap Nara memulai pembicaraan dengan suara yang jernih namun sarat akan emosi.
"Malam ini, Nara sengaja mengundang kalian semua ke sini. Bukan hanya untuk makan malam, tapi untuk menyampaikan sesuatu yang dari dulu tertahan di dada Nara." Nara berhenti sejenak, memandang wajah keriput Bi Imah yang tersenyum hangat kepadanya.
"Selama Nara bekerja di luar kota, jujur saja, rasa cemas tidak pernah lepas dari pikiran Nara. Jauh dari rumah, memikirkan Ibu yang tinggal sendirian, sering membuat Nara tidak bisa tidur nyenyak." Nara menunduk sebentar, mengusap sudut matanya yang basah sebelum kembali melanjutkan, "Tapi, kecemasan itu selalu pudar setiap kali Nara menelepon Ibu dan mendengar suaranya begitu ceria. Nara tahu, itu semua karena kehadiran kalian."
Bu Lastri mengangguk pelan, matanya juga mulai berkaca-kaca. Ia meletakkan sendoknya dan menatap Nara dengan tatapan seorang ibu.