Kenangan di Ujung Senja

Nurhafizatur Rahmi
Chapter #27

Menggenggam Bayang Semu

Udara sore terasa begitu dingin di sebuah warung kopi sederhana di sudut kota, tempat di mana Bu Siti dan Pak Wijaya biasa menghabiskan waktu luang mereka setelah seharian bekerja. Di seberang meja, duduk seorang perempuan muda bernama Nara. Matanya sembab dan tubuhnya sedikit bergetar, menahan beban emosi yang selama ini ia pendam. Rasa penyesalan telah mengabaikan ibunya demi pekerjaan di luar kota telah berubah menjadi trauma yang menghantuinya setiap malam.

Dengan tangan gemetar, Nara menatap kedua sosok paruh baya di hadapannya. Orang-orang inilah yang menggantikan posisinya menjaga sang ibu selama bertahun-tahun.

"Bu Siti, Pak Joko... maafkan Nara. Maaf karena Nara baru pulang sekarang setelah semuanya terlambat," ucap Nara dengan suara tercekat, air matanya tak lagi terbendung.

Bu Siti, perempuan yang dulu sering mengantarkan makanan ke rumah ibunya, tersenyum lembut. Ia mengulurkan tangannya, menggenggam jemari Nara yang dingin. "Nduk, tidak ada yang perlu dimaafkan. Ibumu tidak pernah membencimu. Dia selalu mendoakanmu setiap kali kami menemaninya makan malam."

Lihat selengkapnya