Kenangan di Ujung Senja

Nurhafizatur Rahmi
Chapter #28

Menyerah Pada Takdir

Ruangan psikiater itu bernuansa putih gading. Aroma teh chamomile menguar lembut, seolah berusaha meredakan ketegangan di ruangan tersebut. Nara (26) duduk di kursi seberang meja dokter. Tatapannya kosong, terpaku pada jemarinya yang saling meremas kuat di atas pangkuan. Selama tiga tahun terakhir, ia memilih bekerja keras di luar kota dan nyaris melupakan ibunya yang tinggal sendirian.

"Nara, kamu bilang kamu datang ke sini bukan sekadar karena sulit tidur, tapi ada beban berat yang mengganjal di dada," buka Dr. Rina, Sp.KJ, suaranya tenang dan penuh empati. Nara menarik napas panjang, namun yang keluar justru isakan kecil.

"Saya merasa gagal, Dok. Sangat gagal. Selama ini saya merasa bangga bisa mengirimkan uang setiap bulan untuk Ibu. Saya pikir itu cukup. Tapi ternyata, saya salah besar," ucap Nara dengan suara bergetar.

"Apa yang membuatmu merasa gagal?" tanya Dr. Rina sambil meletakkan penanya, memberikan perhatian penuh.

Lihat selengkapnya