Udara di ruangan terasa membeku, menyisakan isak tangis Nara yang terdengar lirih di antara deru AC. Selama ini, ia selalu menjadikan kesibukannya bekerja di luar kota sebagai alasan untuk jarang menelepon, apalagi pulang menjenguk ibunya. Kini, saat sang ibu telah tiada, rasa bersalah itu berubah menjadi duri yang menusuk batinnya setiap malam.
Psikiater Nara, Dokter Rina, menggeser sebuah kotak kecil dan secarik kertas ke hadapan Nara. Tatapannya teduh, penuh empati.
"Nara," ucap Dokter Rina lembut, memecah keheningan. "Cobalah baca pesan ini. Surat ini bukan dari saya, tetapi dititipkan oleh seseorang yang sangat mengenal ibumu semasa kamu di luar kota."
Nara mengangkat kepalanya yang basah oleh air mata, tangannya sedikit gemetar saat meraih kertas itu.
"Apa ini, Dok?" tanya Nara dengan suara serak.