Kenangan di Ujung Senja

Nurhafizatur Rahmi
Chapter #37

Arti Kehilangan

Suara derit pintu kayu yang dibuka perlahan memecah kesunyian rumah. Aroma minyak kayu putih dan bedak tabur khas ibu masih tertinggal samar di udara, membuat dada Nara berdesir. Di atas kasur rapi berselimut kain jarik, sebuah mukena putih terlipat rapi di sudut tempat tidur.

Nara mendekati lemari pakaian, jemarinya menyentuh gantungan baju satu per satu. "Pak, baju-baju Ibu... sebaiknya kita apakan? Apa mau kita sumbangkan ke panti asuhan dekat sini?"

Bapak berjalan mendekat, lalu duduk di tepi kasur. Beliau mengusap permukaan kasur yang kosong dengan pandangan menerawang. "Iya, Nara. Pilih beberapa daster dan kain batik yang paling sering Ibu pakai untuk kita simpan sebagai kenangan. Sisanya, baju-baju yang masih bagus, kita rapikan dan sedekahkan. Ibu pasti senang kalau barang-barangnya masih bisa bermanfaat untuk orang lain."

Nara mengangguk. Ia mulai melipat pakaian ibu dengan hati-hati. Setiap helai kain seolah membawa kembali ingatan saat ibu memakainya untuk menyambut Nara pulang. Di dasar laci, tangan Nara menyentuh sebuah kotak beludru kecil. Ketika dibuka, isinya adalah seuntai kalung mutiara imitasi yang dulu pernah Nara belikan dari gaji pertamanya.

Lihat selengkapnya