Bapak bangkit dari kursinya perlahan, berjalan ke arah kamar tidur beliau, lalu kembali dengan sebuah benda di tangannya. Sebuah buku agenda tua bersampul kulit cokelat yang jidatnya sudah agak mengelupas disodorkan kepada Nara.
"Nara, ini milik ibumu. Bapak rasa, sekarang adalah waktu yang tepat untuk menyerahkannya kepadamu," ucap bapak sambil duduk kembali, menatap Nara dengan pandangan mata yang teduh.
Nara menerima buku tua itu dengan kedua tangannya. Jantungnya berdegup sedikit lebih kencang saat menyentuh permukaan sampulnya yang terasa dingin. "Ini... buku harian Ibu, Pak?"
"Iya. Ibumu selalu menulis di buku itu setiap malam, terutama saat rindu kepadamu sedang hebat-hebatnya. Beliau sengaja tidak pernah menunjukkannya agar kamu tidak terbebani di perantauan," jawab bapak dengan suara yang agak berat namun terdengar sangat ikhlas.