Kenangan di Ujung Senja

Nurhafizatur Rahmi
Chapter #41

Kata Waktu dibalik Arah

Suara langkah bapak yang membawa sekeranjang bunga mawar segar dan irisan daun pandan memecah keheningan ruang tengah. Bapak tersenyum bangga, melirik piagam di atas meja lalu menatap putri tunggalnya yang sedang bersiap.

"Nara, bunganya sudah siap semua," kata bapak dengan suara baritonnya yang hangat. "Piagam penghargaanmu tidak mau dibawa sekalian untuk ditunjukkan ke Ibu?"

Nara tertawa kecil, melangkah mendekati bapaknya dan menerima keranjang bunga tersebut. "Tidak usah dibawa fisik piagamnya, Pak. Nanti Nara ceritakan langsung saja di sana. Ibu pasti sudah tahu dari atas sana kalau anak perempuannya ini berhasil membuktikan janji."

"Bapak bangga sekali sama kamu, Nara," ucap bapak tulus, menepuk pundak Nara dengan lembut. "Kamu bisa jadi manajer terbaik di kantor, tapi buat Bapak, kamu tetap anak terbaik karena tidak pernah absen menemani Bapak makan malam setiap sore."

Mendengar kalimat bapak, Nara seketika merasakan lega. Dadanya didera rasa ngilu yang halus karena teringat betapa dulu ia harus menunggu kesuksesan besar di luar kota hanya untuk membuat ibunya bangga dari jauh. Namun, rasa perih itu langsung disapu bersih oleh gelombang kesejukan yang teramat damai; ia menyadari bahwa kini ia meraih prestasi tanpa harus mengorbankan waktu bersama orang tercinta. Keberhasilannya saat ini terasa berkali lipat lebih bermakna karena ia bisa merayakannya langsung di rumah, di samping bapaknya.

Nara memeluk lengan bapaknya dengan erat saat mereka berjalan menuju pintu depan. "Semua ini berkat doa Bapak dan Ibu juga. Yuk, Pak, kita berangkat sekarang. Jalnan ke pemakaman biasanya mulai ramai jam segini."

Lihat selengkapnya